Make your own free website on Tripod.com
Home | Not Terrorist | About Us | Philosopy | Just Do it | IQ & EQ | Education | Creative | Process | Career | Products | Product Description | Contest Page | Contact Us
Gambir Digjaya Era Mandiri
Philosopy


Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Usia Dini
Sumber: Manajemen Qolbu Online [Kajian Bening Hati - Manajemen Diri]


Oleh : Aa Gym

“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fii sabiilillah”. (HR. Imam Ahmad).


Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang baik, Indonesia ini negara yang paling besar jumlah umat Islamnya di dunia. Seperti kita ketahui, negara 350 tahun dijajah Belanda, 3,5 tahun dijajah Jepang.

Bedanya dengan Jepang, mereka sudah bisa bikin hand phone. Apa yang telah dilakukan oleh 200 juta orang ini?. Pabrik banyak, kita hanya jadi karyawannya saja, ya …sebesar-besar gaji karyawan?!. Di jalan-jalan juga banyak terdapat toko, kita sebagai penunggunya, pastinya semua keuntungan akan kembali pada pemilik toko.

Saudaraku yang budiman, bagaimana enterpreneurship Rasulullah SAW. Ternyata, beliau adalah seorang pedagang. Rasulullah semenjak usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun ke Syiria hafilah dagang, itu luar biasa jauhnya. Dan usia 25 tahun seperti yang kita bahas, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda.

Di Indonesia belum kita dapati pemuda kaya yang berani memberi mahar sebanyak itu. Dan yang paling dahsyat ternyata para nabi juga begitu, bahkan sembilan dari sepuluh yang dijamin masuk syurga, mereka orang-orang yang memiliki financial yang baik. Abdurrahman Bin Auf yang pergi hijrah tidak punya apa-apa, di Madinah diberi kebun kurma malah minta ditunjukkan jalan ke pasar. Hasilnya, ketika peperangan, beliau sedekah unta begitu banyak, sedekah kuda, dan beliau wakafkan dirinya untuk berjuang.

Saudaraku, jiwa wirausaha ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil, karena kalau tidak, maka potensi apa pun tidak bisa dibuat jadi manfaat. Prinsipnya, enterpreneurship itu adalah kemampuan untuk meng-create, men-design sebuah manfaat dari apa pun. Seorang wirausaha melihat batu bisa punya nilai jual. Tapi, orang yang jail lihat batu, hanya akan dipakai untuk melempar orang, ini bedanya. Sebuah kulit dengan ukuran sama akan beda nilainya tergantung penilaian seseorang.

Kalau dia punya jiwa wirausaha, kulit itu bisa dibuat sedemikian rupa menjadi sebuah hiasan yang harganya tinggi. Tapi, kalau sederhana cara berpikirnya, kulit tersebut akan dijemur, dipotong-potong, digoreng menjadi dorokdok atau kerupuk kulit. Paling tinggi harganya 200 rupiah, padahal ukurannya sama. Enaknya kalau kita menjadi orang yang mandiri, seperti para sahabat, kita sendiri yang mengatur jam kerja dan gaji karena perusahaan milik sendiri, namun tetap harus dengan ketentuan yang profesional. Kita bisa berkreasi lebih luas dan lebih banyak walaupun tentu ada syarat-syarat tertentu.

Dalam Islam, yang namanya bisnis yang untung itu adalah yang membuat orang lain merasa beruntung sebanyak mungkin. Kalau mereka beruntung dan puas, mereka bilang pada siapa pun. Mending untung sedikit tapi laku banyak dari pada untung banyak tapi laku sedikit. Belajarlah menahan diri untuk menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Banyak untung itu bagus tapi barokah, yaitu manfaat di dunia dan manfaat di akhirat.

Niat harus bagus dalam wirausaha. Jadi, jual beli bukan masalah transaksi uang dan barang, tapi jual beli itu harus jadi amal sholeh. Rahasia amal sholeh itu ada dua, Niatnya betul dan caranya benar. Jadi, anda harus tanya dahulu niatnya apa nih?. Kalau hanya sekedar beli barang, maka anda rugi, karena uang hanyalah titipan Allah. Jadi, setiap transaksi harus menjadi pahala. Jual beli itu butuh waktu, waktu itu adalah modal kita, maka harus jadi pahala.

Bagi orang yang curang, Allah SWT akan mencabut barokahnya Masalah kecurangan ini Allah jelaskan dalam Qur’an surat Al Muthoffifin. Orang curang adalah orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka akan menguranginya.

Kalau uang itu tidak barokah, dia tidak akan pernah tenang. Kalau uang itu tidak barokah, dia selalu dililit oleh kekurangan walaupun uangnya sudah melimpah. Dan kalau uang itu tidak barokah, namanya jauh lebih hina dari pada sebanyak apa pun harta yang dimiliki. Orang yang mengurangi timbangan, maka akan hancur barokahnya. Sepertinya untung, padahal kalau Allah mau membuat musibah, maka akan gampang. Contohnya, dengan gampang Allah akan membuat penyakit , semua keuntungannya habis untuk mengobati penyakitnya. Buat saja penyakit yang buat dia tidak pernah menikmati apa yang dimilikinya.

Oleh karena itu, transaksi jual beli kita harus menjadi amal sholeh. Pilihlah para pedagang yang diperkirakan berdagangnya itu menjadi kebaikan, yang kalau dia punya untung, untungnya itu juga mashlahat. Jangan sampai kita belanja kepada orang yang untungnya bisa menjadi fitnah bagi kita. Begitu pun bagi yang menjual sesuatu, usahakan kepuasan kita bukan kita yang beruntung, tapi untungkanlah sebanyak mungkin orang lain. Secara finansial untung, dan buatlah akhlak kita sebaik-baiknya, sehingga orang yang bertransaksi barang dengan kita tidak hanya mendapatkan fasilitas, tidak hanya mendapatkan barang, tapi juga melihat kemuliaan seorang penjual.

Tidak ada gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba. Gagal adalah sebuah ongkos sukses. Gagal itu sebuah informasi menuju sukses, asal benar mengemasnya. Keuntungan kita itu adalah punya nama baik. Jadi, nggak apa-apa untung kita pas-pasan, yang penting nama kita jadi berharga. Nah biasanya, orang-orang pemula yang belum juga untung sudah berantem sama temannya karena pembagian saham, padahal baru rencana. Pernah ada orang punya satu telor, karena terlalu keras melamunnya dalam merencanakan usaha dalam benaknya, akhirnya telor itu pecah.

Tidak sedikit orang ingin untung jangka pendek sampai membuat namanya coreng. Maka, bagi orang yang akan terjun ke dunia enterpreneurship, harus mulai kita lihat bahwa yang namanya untung itu bukan kita merasa beruntung sendiri, tapi memberikan keuntungan pada banyak orang, Jadi, uang bukanlah hal yang paling penting dalam berwirausaha.

Kita harus mulai merindukan anak-anak kita ini bukan sebagai pekerja, tapi menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi yang ada di bangsa ini tidak tergali. Repotnya, kita tuh suka ingin untung ladang enteng, kerja sedikit untung besar. Ini salah!, yang namanya untung kalau jadi enterpreneur adalah punya ilmu saja sudah untung, walaupun uang tidak untung, termasuk pengalaman bangkrut juga untung.

Oleh karena itu, coba kita didik anak-anak kita di rumah. Kalau perlu, kita menggaji mereka untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan terus membangun kemampuan berhemat mereka, kemampuan untuk tidak meremehkan jerih payah orang lain. Kalau anak-anak sudah tahu kepahitan cari uang, maka mereka akan menjadi pejuang yang tangguh dalam hidup ini. Jadi, mulailah kita biasakan mendidik anak-anak kita menjadi petarung dalam hidup ini. Contoh Rosululloh, beliau seorang anak yatim, bahkan jadi yatim piatu, tapi tidak pernah beliau kalah di dalam berjuang, karena selalu menumbuhkan jiwa wirausaha ini. Wallahu a’lam (yn/mq)***


Sarjana Wirausaha Lebih Terhormat Martabatnya

Minat mahasiswa dan sarjana untuk menjadi wirausaha masih rendah hingga selalu tergantung kepada lowongan kerja yang ada. Padahal, dengan menjadi wirausaha membuat mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi lebih terhormat martabatnya sekaligus membuka lapangan usaha.

"Saat ini saya menjadi 'provokator' untuk mengembangkan wirausaha terutama di kalangan perguruan tinggi. Anda jangan hanya ingin mencari kerja, namun harus bisa membuka lapangan kerja," kata Ketua Yayasan Pendidikan Al-Ma'soem, H. Nanang Iskandar Ma'soem dalam seminar kewirausahaan di kampus ITB Jln. Ganesha, Selasa (17/2).

Menurut Nanang, penumbuhkembangan berwirausaha di kalangan umat Islam sekarang ini terlihat minim karena umat Islam kurang memahami ajaran agamanya. "Kalau pemahaman umat Islam akan ekonomi dan wirausaha benar, maka umat Islam Indonesia bisa menjadi umat yang unggul di dunia. Bukan kah Nabi Muhammad saw sejak anak-anak sudah diajari untuk berwirausaha, hingga saat mudanya menjadi pedagang?" katanya.

Ajaran Islam memandang seorang wirausaha merupakan orang yang unggul dan termasuk kategori tertinggi hingga harus diperhitungkan oleh kelompok lainnya. "Yang terjadi sampai saat ini adalah pergeseran nilai yang dianut umat Islam disebabkan penyebaran informasi dari orang non Islam yang menyesatkan. Misalnya, akhirat lebih penting daripada dunia dan semuanya telah ditakdirkan, batin lebih penting daripada lahir sebab lahiriah adalah semu, dan ketergantungan lebih penting daripada kemandirian," katanya.

Bila melihat sejarah dan ajaran Islam, lanjut Nanang, seharusnya umat Islam terutama mahasiswa dan sarjana Muslim memiliki dasar kuat untuk menjadi wirausaha. "Sikap muslim yang baik menjadi modal kuat untuk menjadi wirausaha. Muslim yang baik adalah berbudi luhur, teladan, mental mulia dan agung, jujur, berwibawa, dan pemberani tapi murah hati," ungkapnya.

Untuk menjadi wirausaha, aku pengusaha yang sejak SMP sudah bisnis sepeda motor ini, harus berani mengambil risiko setelah diperhitungkan secara matang. (A-71)***

JADILAH MEGAWIRAUSAHAWAN !
Oleh: Purdi E. Chandra

Kita semakin dituntut segera mewujudkan masyarakat wirausaha (entrepreneurial society). Bangunan masyarakat dengan angka pengangguran yang terus bertambah dan pertuimbuhsn ekonmi yang terus merosot sseperti Indonesia . Kitalah, para wirausahawan, yang berada di garda terdepan untuk mengatasi problem nasional ini, yakni menekan angka pengangguran sekaligus menggairahkan kembali dunia bisnis. Dengan demikian, para ekonom dan ahli statistic lita juga bergairah mencatat angka-angka pertumbuhan ekonomi kita.

Namun, kenyataan sehari-hari sering kurang mendukung terciptanya masyarakat wirausaha. Contoh sederhananya, hampir di semua perusahaan, kalau ada karyawan yang ketahuan memiliki bisnis sendiri, langsung dipecat. Pemilik perusahaan umumnya takut terjadi konflik kepentingan yang akhirnya merugikan perusahannya . Maka, lebih aman kalau sang karyawan dikeluarkan saja.
Alasan seperti itu sangat masuk akal.Akan tetapi, saya punya pengalaman sendiri.Hampir semua anggota direksi di kelompok usaha yang saya pimpin(Grup Primagama) memiliki bisnis sendiri.Demikian juga, karyawan di tingkat yang lebih rendah. Bidang usaha yang mereka terjuni bermacam-macam, mulai dari kursus bahasa Inggris, bengkel,mebel, warung makan, hingga BPR. Seminggu yang lalu, misalnya, saya diundang oleh manajer SDM Primagama dalam acara pembukaan usaha bengkel mobilnya. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga diundang untk menikmati menu special dari seorang karyawan yang sukses membuka warung makan di pinggiran kota. Bahkan, ada salah seorang mantankepala cabang kami yang sekarang mampu mengembangkan bisnis sendiri, dan menjadi pengusaha terkenal di tingkat nasional.

Sebagai wirausahawan, kita harus bangga jika berhasil menularkan virus entrepreneur kepada seluruh karyawan. Artinya, kita ditantang tampil sebagai wirausahawan yang punya tanggung jawab social untuk melahirkan wirausahaawan baru .Pengusaha demikian, menurut saya layak disebut sebagai Megawirausahawan (Mega Entrepreneur).

Kalaupun mereka memutuskan keluar dari perusahaan setelah usahanya besar, kita malah harus bersyukur karenasecara tak langsung ikut menciptakan lapangan kerja yang lebbih besar lagi. Syukur-syukur kalau mantan karyawan kita itu malah menjadi mitra bisnis kita yanga andal, atau bahkan membuka akses bbisnis kita agar mampu berkembang lebih pesat lagi.Yang penting disini, sebagai Megawirausahawan, kita selalu diuji agar jangan egois bahwa yang harus menjadi pengusaha dan kaya hanya kita, sedangkan para karyawan dituntut loyal menjadi karyawan sampai pensiun.

Memang, ada sementara orang yang mendambakan masa pension sebagai masa istirahat yang tenang tenteram samil menikmati tabungan semasa bekerja.Dalam prakteknya, saat-saat bahagia itu umumnya hanya berlangsung 3-4 bulan. Setelah itu rasa jenuh dan bosan mulai menyergap. Hal ini tidak akan terjadi seandainya selagi masih bekerja si perusahaan orang, sang kaaryawan juga mulai membangun bisnis sendiri. Sehingga, ia tetap sibuk dan mungkin malah berpenghasilan lebih besar lagi saat ia menjalani masa pension.

Untuk menerapkan konsep Megaentrepreneur,perlu rambu-rambu yang jelas.Salah satu yang penting, kendati punya bisnis sendiri,sang karyawan harus tetap komit terhadap tanggungjawab utamanya di perusahaan tempatnya bekerja. Di sinilah ia dituntut belajar mendelegasikan bisnis pribadinya kepada orang-orang kepercayaannya. Kemampuan sepert itu sangat dibutuhkan bila kelak ia memuituskan keluar dari perusahaan dan serius mengembangkan bisnisnya sendiri.
Bagaimana kalau bidang usaha yang diterjuni karyawan ternyata sama dengan perusahaan tempatnya bekerja? Jawabannya, tentu ia harus rela meninggalkan perusahaan dan memperbesar usahanya sendiri.Sehingga, ia harus bersaing dengan bekas perusahaan tempaatnya bekerja.Ini jelas hal yang bagus, karena ia ikut menciptakan iklim persaingan dalam bisnis yang sehat tentu saja bukan saja menguntungkan konsumen, melainkan juga perekonomian secara makro.


 

Bapak Ustadz saya ingin bertanya soal usaha, bagaimana cara memulai usaha atau wiraswasta, hampir setiap hari. Saya berpikir dan berdoa memohon petunjuk dan memohon agar diberi keberanian untuk memcoba/memulai usaha, tapi sampai saat sekarang saya belum bisa menentukan apa yang harus saya pilih atau tempuh untuk menciptakan cita-cita saya tersebut, padahal dihati saya sangat besar sekali keinginan untuk usaha sendiri apapun bentukya selama halal dan didalam aturan. Sebenarya apa yang pertama-tama saya harus lakukan dan selanjutnya.


Jawab

Saudara Irwan yang sedang memulai usaha baru. Kita sebagai masyarakat muslim sungguh beruntung karena Nabi kita selain utusan Allah juga seorang pedagang. Jadi bila kita ingin sukses berusaha sekaligus halal dan tetap menjaga akhlak yang baik kita dapat mencotoh perilaku Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan usahanya

Pertama-tama yang perlu kita sadari adalah bahwa Rasululloh berhasil menjadi pedagang sukses bukan karena beliau seorang yang berkelimpahan harta, bukan pula seorang yang mendapat captive market untuk memasarkan barang dagangannyatetapi karena mampu melewati tahap-tahap berikut:

First. Mampu menghilangkan mental blocking . ini aartinya mampu mengalahkan dirinya sendiri.ketekutan berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha merupakan hambatan terbessar. Bisnis tentu membawa resiko, tetapi ketakutan berlebihan dan tidak beralasan merupakan momok terbesar. Untuk menghilangkan mental blocking perlu dilakukan hal berikut:
a. Hitung resiko terbesar atau kemungkinan terburuk yang akan terjadi
b. Hitung kemampuan untuk menanggung hal terburuk
Karena bisnis mengandung resiko dan bagi pemula kemampuan menanggung resiko ini kecil, maka pilihlah bisnis beresiko kecil misal dagang.. Allah tidak akan mengubah nasib saya kecuali saya mengubah diri sendiri, dan siapa yang bersungguh-sungguh berjuang maka akan ditunjukkan jalan.

Second. Mampu menguasai pasar. Ini berarti:
a. Tahu dimana membeli barang yang lebih murah
b. Tahu ke mana menjual barang dengan lebih mahal
c. Tahu dimana membeli barang dengan harga murah dan bayar tangguh
d. Tahu kemana menjual barang dengan lebih mahal bayar tunai
Bila pasar telah dikuasai dan jumlah penjualan mulai meningkat maka yang berikutnya adalah melihat kemungkinanprosuksi sendiri sebagian barang.

Third. Mampu memproduksi sebagian barang sesuai tuntutan pasar yang tidak dapat dipenuhi oleh pemasok, sehingga perlu diproduksi sendiri. Secara perlahan tapi pasti mulai juga diperhitungkan untung rugi memproduksi barang walaupun barang tersebut dapat dipenuhi oleh pemasok.dengan semakin besarnya volume penjualan dan volume produksi, maka karyawan semakin banyak pula. Nah pada tahap ini diperlukan pembenahan manajemen organisasi.

Fourth. Mampu mengelola organisasi efektif dan efisien. Dengan bertambahnya sumber daya manusia maka perlu dibuat aturan yang jelas tentang hak dan kewajiban, pembagian pekerjaan di antara para pekerja. Sejalan dengan perkembangan ini tentu perusahaan memerlukan dana tambahan untuk mengembangkan usaha.

Fifth. Mampu menarik dan meyakinkan pemilik modal untuk ikut serta dalam bisnis yang dilaksanakan. Posisi tawar menawar harus setara dalam arti saling membutuhkan.

Wallohu `alam bishowwab.

Etika Berwirausaha
K.H. Abdullah Gymnastiar

Hikam:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (QS. Al-Maidah: 2)

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah." (HR.Imam Ahmad)

Rasul adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apapun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwira usaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal soleh yaitu dengan niat dan cara yang benar.

Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apapun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.

H Bambang Sumadji HS, petani dari Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri Jawa Timur. Ia dikenal sebagai Petani milyarder 
Ia menemukan jalan terang dalam dunia pertanian yang suram. Resepnya? Yang penting istiqamah.
 
BENNY HADISURJO MBA
Dalam waktu setahun, restoran Popeyes telah berjumlah sepuluh, yang tersebar di Jabotabek
Kiat Benny agar Popeyes cepat melekat di hati konsumen bukan lain adalah inovasi menu yang tiada henti.
 
SOP BUNTUT BU DJOKO
"Saya tidak ingin mewaralabakan resepnya, tapi pengelolaan kafenya," kata Bu Djoko. Dengan begitu, menurut dia, cita rasa kafe dengan label Bu Djoko akan selalu sama
 
F. ANTONIUS ALIJOYO

Direktur keuangan PT BAT Indonesia ini berani melepaskan jabatannya dan memilih karier sebagai konsultan TI. Obsesi, peluang, dan keprihatinannya membawanya sampai kepada keputusan itu.

 

Drs. Christian Pua, Geliat Bisnis Mantan Diplomat

Kepiawaiannya mencium peluang bisnis, serta pintar dalam menjalin/bermitra dengan rekanan, modal sukses masuk berbagai sektor usaha.

Fathya F. Hamidy,

lulusan Fakultas Teknik Mesin UI & Georgia Institut Teknologi

Menjadi pengusaha adalah keinginannya. Pada 1995, ia membuka Toko Buku Komik (untuk anak-anak dan remaja). "Awalnya hanya sekadar mencoba sekalian untuk menyalurkan hobi.

M.Abdi Daulay, Direktur Utama sekaligus pemilik gerai Yes - The Home Centre serta perusahaan event organizer dan periklanan.

Modalnya benar-benar dari bawah. Modal utama Abdi saat itu adalah kejujuran dan kepercayaan.

Memang seperti dikatakan Peter F. Drucker, entrepreneurship tak datang seperti badai menghempas, tapi ia hadir dalam desiran angin. Artinya, menurut filsuf manajemen ternama itu, semua peluang menjadi wirausahaan itu ditemukan hanya jika seseorang aktif menangkap peluang, dengan berpikir jernih - rasional serta memiliki daya kreativitas dan inovatif.

Didi Apriadi

Pemilik PT Optima Infocitra Universal

Saya tertarik menangani e-government karena, pertama, saya melihat peluang untuk TI di Indonesia itu banyak, tetapi e- government kita seperti kurang digarap. Jadi, pertama saya ingin membantu mengembangkan TI di Indonesia. Kedua, memang di situ ada juga profit yang bisa diambil. Selain itu, saya juga melihat yang bermain di e-government itu masih sedikit sehingga peluangnya masih terbuka.

SHINTA W. DHANUWARDOYO Arsitek yang Jago Internet, pemilik Bubu.com

Kami melihat pendidikan teknologi informasi (TI) di Indonesia masih sangat menyedihkan dan kebanyakan masih belum mengenal komputer. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah telah membuat program sekolah 2000, dan kami berusaha membantu untuk lebih cepat memperkenalkan TI kepada masyarakat. 

Poppy Palele 

Pemilik Red Rocket Animation

Bermimpi Jadi Walt Disney-nya Indonesia Biarpun sekarang ini nama Poppy Palele sudah makin dikenal orang, Poppy enggan jika harus dianggap terkenal. "Saya lebih suka berada di belakang," 

Suhono Harso Supangkat 

Pemilik Biznet

Untuk menerjuni bisnis yang penuh risiko ini, salah satu modalnya adalah keberanian, termasuk keberanian menentukan segmen pasar. Kami sendiri membidik kelas yang relatif mapan. Pasar yang kami tembak adalah korporat.

EDDIE RASYID DARAJAT 

Pendiri Indoexchange 

Saya memiliki visi agar Indoexchange dapat berkiprah lebih banyak lagi di segmen komersial, di mana sebelumnya kami mulai dengan content dan community. Langkah selanjutnya, saya ingin mewujudkan transaksi finansial karena tantangannya tidak ringan. Namun, saya percaya karena demand-nya cukup kuat. Pasalnya, transaksi finansial merupakan sesuatu yang nature karena hanya masalah data. Berbeda dengan online shopping yang masih ada pengiriman

Faisal Bustami

Pemilik Blazer 

Dengan strategi untung tipis asalkan perputaran uang cepat

Indrajaya Putra Januar 

Saya Ingin Kopitime Menjadi Yahoo! Indonesia
    

Enter content here

Enter supporting content here