Make your own free website on Tripod.com
Home | Not Terrorist | About Us | Philosopy | Just Do it | IQ & EQ | Education | Creative | Process | Career | Products | Product Description | Contest Page | Contact Us
Gambir Digjaya Era Mandiri
Education

Ilmu pengetahuan, teknologi dan kewirausahaan

Kewirausahaan bukan berpijak hanya pada bakat sejak lahir, melainkan terkait erat dengan tindakan dan aksi.

Surabaya adalah gudangnya wirausahawan. Banyak konglomerasi lahir dan besar di kota ini. Meskipun umumnya penampilan mereka bersahaja, jangan tanya kalau sudah berbisnis: garang.

Surabaya 1989. "Pak Jefri, anak saya, Hary, baru pulang sekolah dari Kanada. Tolong diajari soal bursa," pinta Tanoesudibjo, salah satu raja properti di Surabaya, kepada Hasan Jefri, pengamat bursa di Surabaya. Tak jelas apakah Jefri benar-benar membimbing si anak muda Hary tadi. Namun, beberapa tahun kemudian, anak muda ambisius itu telah menjadi konglomerat lewat perusahaannya sendiri, Bhakti Investama yang juga pemilik RCTI, Metro TV dan Global TV. Tak penting Hary kini berbasis di Jakarta, tapi naluri bisnisnya dimulai dari keluarganya yang tinggal di kampung-nya nun di Suroboyo.

Ade Suhidin
Profit Sharing dari Kandang Bebek


Ade Suhidin lebih suka disebut peternak. Walaupun, lulusan ALA Berkley, Los Angeles, AS ini konglomerat dan pebisnis ulung. Ia adalah direktur utama PT Adess Sumberhidup Dinamika (Addfarm), perusahaan peternakan bebek yang beroperasi dengan sistem bagi hasil (profit sharing).

Saat ini Ade mempunyai mitra investor sebanyak 3.000 orang. Modal yang berhasil dihimpun dari mereka mencapai miliaran rupiah. Bisa jadi karena janji keuntungan hingga 44 persen per tahun, Addfarm tak sepi dari investor baru.

''Bahkan, kami sempat mempunyai investor hingga 8.000 orang. Tapi, yang aktif kini tinggal 3.000 orang saja,'' ujarnya kepada Republika, di sela-sela acara family gathering Addfarm, beberapa waktu lalu di Cirebon. ''Saya tak tahu persis mengapa mereka menarik diri, tapi saya juga optimis sistem yang kami kembangkan ini akan menarik lebih banyak investor lagi.''

Berawal dari modal Rp 200 juta saat mendirikan perusahaan peternakan itu pada 1995, kini aset yang dimiliki lelaki tinggi besar (38) asli Cirebon itu telah berkembang hingga Rp 140 miliar. Dalam dua tahun terakhir Addfarm membukukan keuntungan Rp 40 miliar. Usahanya pun tak lagi mengandalkan produk bebek semata. Ade kini juga mulai merambah perhotelan, pariwisata, dan penerbitan.

Tak lama lagi, jika programnya lancar, penikmat lagu-lagu God Bless itu akan mempunyai perusahaan asuransi sendiri, dan bahkan bank sendiri. ''Sementara ini masih berupa wacana. Namun, kami serius untuk merealisasikannya. Bukan apa-apa, asuransi dan bank sangat penting untuk mendukung usaha ternak bebek,'' lanjutnya.

''Kedua bidang itu selama ini kelihatannya belum sepenuhnya percaya kepada kami. Karena itu kami merasa perlu memiliki sendiri,'' imbuh suami Rina Damayanti itu. ''Asuransi penting untuk mengantisipasi risiko usaha.''

Ade mengaku dapat seperti sekarang tanpa bantuan dana dari bank. Dulu ia sempat meminjam degan syarat macam-macam dan sulit. ''Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mengembangkan usah tanpa bantuan dana bank,'' kenangnya.

Menurutnya, kemitraan dan niat baik berbagi keuntungan dengan orang lain menjadi kunci sukses. Berbagi keuntungan bukan hanya dilakukannya dengan para pemilik uang, namun juga dengan orang-orang kecil di sekitarnya. Kemudian muncullah konsep bisnis profit sharing ternak bebek itu.

Dalam bisnis ini Ade bermitra dengan para peternak sungguhan. Merekalah yang angon (menggembala) bebek milik para investor yang rata-rata orang kota. Ade mengaku ingin membantu mengentaskan kemiskinan di daerah kelahirannya. ''Kini para peternak bisa meraih pendapatan lumayan setiap bulannya. Desa-desa pun terbebas dari tawuran antarkampung karena pemudanya tidak lagi menganggur,'' imbuhnya.

Selama tujuh tahun Ade membangun ''kerajaan bebeknya.'' Ia mempuyai resep tersendiri mewujudkan usahanya itu. ''Yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah cara memandang suatu hambatan. Saya selalu melihatnya sebagai suatu tantangan yang tetap harus ditaklukkan
.''

Suhono Harso Supangkat
Melihat jumlah komputer yang relatif sedikit, Suhono membuat set top box TV agar masyarakat Indonesia bisa mengakses internet. Dia juga membentuk inkubator bisnis untuk menggembleng alumni ITB menjadi entrepreneur
 
Di ITB saya menemukan jalan sukses. Tahun 1990 saya mendapat tawaran beasiswa dari pemerintah Jepang untuk mengambil program S2 dan S3. Saya pun tidak menyia-nyiakan tawaran itu. Pada 1991 saya resmi menjadi mahasiswa University of Electro Communication, Jepang, sebuah universitas negeri khusus elektro komunikasi. Saya meraih gelar doktor dan kembali ke ITB pada 1997. Saya langsung diangkat sebagai sekretaris II di Jurusan Elektro.
tahun 1998 tak lama setelah pulang dari Jepang diberi nama Multimedia Signal Processing Research Engineering. Tahun 2000 saya ubah menjadi Multimedia and Cyberspace Reengineering Group (Mucer). Lembaga ini saya jadikan inkubator bisnis bagi alumni ITB. Lembaga ini tetap di bawah naungan ITB. Keuntungan yang diperoleh dari proyek-proyek tetap dipakai untuk membiayai Mucer serta membayar uang sekolah mahasiswa yang mengambil program S2. Dengan dana itu, saya bisa membiayai empat mahasiswa bimbingan saya untuk mengambil program S2. Mereka ikut ambil bagian dalam setiap penelitian yang saya lakukan.
Awalnya saya membuat set top box TV dengan komponen-komponen sederhana yang harganya bisa terjangkau. Saya cari software yang murah. Berbagai penelitian saya yang lain juga dilirik oleh berbagai institusi. Misalnya, sewaktu melakukan riset tentang mekanisme pembayaran dalam e-commerce, penelitian saya dibiayai oleh Indosat. Pihak Telkom Jawa Tengah pun saat ini sedang membiayai riset yang sedang kami kerjakan, yang diharapkan selesai 2-3 bulan lagi, dengan biaya sekitar Rp700 juta

Adi Saputra Kusma
Umur tidak menjadi masalah bagi Adi Saputra Kusma untuk mengejar ambisi. Melalui proses belajar dan berani menerima tantangan, Adi Saputra Kusma membidik bisnis yang cukup menggiurkan. Lebih jauh perjalanan hidup presiden direktur PT Biznet ini dituturkan berikut ini.

"Berani melakukan sesuatu. Mungkin prinsip itulah yang menjadikan saya bisa seperti saat ini, menjadi presiden direktur Biznet, perusahaan internet service provider (ISP) dan pengelola pusat data. Keberanian saya mengambil keputusan untuk sekolah ke luar negeri dan bekerja di sebuah perusahaan internasional di AS, dengan tantangan yang cukup besar dan gaji pas-pasan, serta mendirikan usaha dengan modal dan tingkat risiko yang besar, menjadikan dan mengantarkan saya pada kedudukan seperti sekarang, pada usia saya yang masih relatif muda, di bawah 30 tahun

Setelah melalui proses pembelajaran, baik di bangku kuliah maupun di tempat kerja yang saya tekuni selama beberapa tahun, pada awal 2000 saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Ketika tiba di Tanah Air, saya mulai mengenali peta bisnis internet, khususnya ISP. Saya melihat bahwa saat itu ISP paling besar baru mempunyai anggota sekitar 40-50 ribu. Sementara itu, America On Line (AOL) di AS mempunyai anggota hingga 40 juta. Saya kemudian berpikir, ini peluang yang cukup bagus untuk dikembangkan di Indonesia.

Menyiapkan Tiket untuk Universitas Negeri
Purdi menyulap sebuah bimbingan tes menjadi induk dari 13 perusahaan
Hendrika Yunapritta, R. Kristiawan (Yogyakarta)

Kuliahnya tidak rampung. Tapi, dengan modal Rp 300.000, Purdi E. Chandra berhasil membangun Primagama menjadi bimbingan tes terbesar dengan omzet Rp 28 miliar per tahun. Kini, di bawah Primagama bernaung tak kurang dari 13 perusahaan. 

Di mana calon mahasiswa dicetak? Salah satunya di Primagama. Sebab, tahun lalu, 50.000 peserta lembaga pendidikan tersebut diterima di universitas. Lewat program bimbingan tes, Primagama memberi siswa SLTA berbagai kiat mengerjakan soal-soal UMPTN secara praktis dan cepat. Program ini, yang dibuka sejak 17 tahun silam, ternyata banyak peminatnya. Tahun ini saja tercatat sekitar 70.000 pelajar mengikuti bimbingan tes di Primagama.
Kendati tercatat sebagai penyuplai calon mahasiswa, belum diketahui berapa murid Primagama tahun ini yang bakal lolos saringan UMPTN, yang diumumkan Jumat pekan ini. Purdi E. Chandra sendiri, si penyelenggara bimbingan tes, tentu juga ingin tahu hasilnya. Sebab, hal itu menyangkut keuangan Primagama, yang kini memiliki 164 outlet di seluruh Indonesia. "Soalnya, hanya siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri saja yang membayar biaya kursus," kata Purdi.
Seorang peserta bimbingan tes Primagama harus membayar Rp 400.000 per tahun. Bila gagal masuk perguruan yang dituju, seperti dikatakan Purdi, yang bersangkutan boleh mengulang dengan gratis. Lesnya berkembang maju, seiring dengan berhasilnya Purdi yang konon "meluluskan" 80% anak bimbingnya ke perguruan tinggi. Tahun lalu, omzet bimbingan tes yang mempunyai kekayaan sekitar ini Rp 30 miliar ini diperkirakan mencapai Rp 28 miliar. 
Itu baru dari Lembaga Pendidikan Primagama saja, belum dari usaha lainnya seperti Institut Manajemen dan Komputer, atau usaha kontraktor yang didirikannya tahun 1992. Sekarang usaha Purdi tercatat tersebar di tiga belas perusahaan, meliputi bidang usaha pendidikan, penerbit, percetakan, biro perjalanan, properti, dan bahkan restoran Padang. Perusahaan-perusahaan tersebut berada di bawah naungan induk perusahaan Primagama. 
Tidak ada yang menyangka kalau bimibingan tes Primagama itu dimulai dari sebuah ruangan kecil di Jalan Pierre Tendean di Wirobrajan, Yogyakarta. Waktu itu, tahun 1982, jumlah bimbingan tes memang belum sebanyak sekarang. Peminatnya juga tidak membludak. Namun, sesuai dengan sebutannya sebagai kota pelajar, Yogyakarta selalu menjadi serbuan ribuan lulusan SMA dari seluruh Indonesia. Tujuannya apa lagi kalau bukan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan universitas tertua di Indonesia, dan IKIP Negeri yang ada di sana. 
Tahun 1982, Purdi dan Herman Legowo memulai bimbingan tes ini dengan modal Rp 300.000. Modal sebanyak itu didapat dari hasil menodong beberapa temannya. Untungnya Purdi mendapatkan sebuah ruangan yang cukup luas dengan ongkos sewa Rp 30.000 per bulan. Ruangan tersebut terpaksa disekat menjadi dua, untuk kelas dan ruang administrasi. Setelah dilengkapi meja kursi, yang juga dipinjamnya dari teman-temannya, Purdi memulai usahanya. Belakangan, Herman Legowo meninggalkan Primagama dan memilih berkarier sebagai dosen FE UGM. 
Ketika pertama kali dibuka, bimbingan tes belum populer. Terpaksalah Purdi mengumpulkan sekitar 15 siswa kelas tiga SMA di kampung Wirobrajan. Mereka diberi kursus gratis, untuk promosi. Yang membayar ongkos cuma dua orang siswa dari luar Wirobrajan. Satu bulan menjelang Sipenmaru, barulah datang serombongan siswa dari Kudus yang tertarik pada Primagama. Purdi punya prinsip yang unik. Menurut dia, para pengajar di bimbingan tes harus kuliah di universitas negeri. "Bagaimana murid mau percaya, kalau mereka sendiri tak lulus UMPTN?" kata Purdi yang mengaku sempat berkeringat dingin pada awal-awal mengajar. 

Di mana ada supermarket, di situ Primagama berdiri

Sebenarnya yang diincar oleh bimbingan tes seperti Primagama adalah rasa kurang percaya diri siswa menghadapi UMPTN. Soalnya, menurut Purdi, bekal dari sekolah kurang memantapkan siswa. Pasalnya, guru dan siswa terbebani oleh kurikulum yang dibuat pemerintah. "Akibatnya, pengajaran menjadi kurang pragmatis," kata Purdi yang pernah terpilih menjadi tentor favorit ini. Karena itulah Primagama mengambil semacam jalan pintas dalam mengerjakan soal UMPTN. Bentuk pengajarannya adalah latihan soal UMPTN tahun-tahun sebelumnya. Yang juga diberikan adalah kiat-kiat mengerjakan soal tipe tertentu dengan praktis dan cepat. "Malah ada soal yang langsung bisa dijawab tanpa selesai membaca," katanya. 
Kebanyakan lembaga bimbingan tes yang ada rontok di tengah jalan. Tak heran, itu karena manajemennya memakai gaya lembaga sosial, bahkan cuma mengisi waktu sebelum lulus kuliah. "Kebanyakan bubar setelah pengelolanya lulus kuliah," kata Purdi, pengagum berat Stephen Covey, D.J. Schwarz, Dale Carnegie, dan Bill Gates ini. Untung saja, hal ini tidak terjadi pada Primagama. Soalnya Purdi mendapat inspirasi dari Moelyono, seorang pengajar terkenal dari Jakarta. Moelyono menekankan pendekatan bisnis pada bimbingan tes. 
Cara yang kemudian diterapkan Purdi adalah memberikan jaminan bahwa siswa boleh kursus tanpa bayar di Primagama. Tapi, jika siswa diterima di universitas negeri, mereka harus melunasi ongkosnya. Metode begini ternyata cukup efektif. Walaupun banyak yang mengemplang, Purdi masih bernapas lega karena sebagian besar siswanya selalu diterima di universitas negeri. Bersamaan dengan itu, Purdi juga belajar mengenai manajemen pemasaran dan sumber daya manusia. Dirinya ingin mengelola bimbingan tes ini secara profesional. 
Tahun 1985, Primagama mulai membuka program bimbingan belajar untuk siswa SD dan SMP. Pada tahun yang sama, Purdi mulai membuka cabang di Magelang. Dari sana pelan-pelan Purdi mulai membangun kerajaan bisnisnya. Saat ini Primagama telah memiliki 164 bimbingan tes di 64 kota, tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Purdi menargetkan, tahun 2008 nanti bimbingan tes Primaga sudah berdiri di seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia. 
"Pedoman yang saya pakai adalah pedoman supermarket," kata Purdi. Maksudnya, di mana ada supermarket, di situ pulalah Primagama siap berdiri. "Ini berhubungan dengan daya beli masyarakat" kata bendahara DPW PKB DIY, yang menjadi caleg dari Yogyakarta ini. Maklum saja, sasaran Primagama memang golongan menengah ke atas.        

Bill Gates dari Yogyakarta

Ada sebuah foto yang memperlihatkan awal mula pendirian Lembaga Pendidikan Primagama tahun 1982. Ruangan sempit dengan meja kursi pinjaman, plus senyum percaya diri sang direkturnya yang memakai kaos oblong dan sepatu kets. "Saya selalu tertawa melihat foto itu," kata Purdi E. Chandra. Pria kelahiran 40 tahun lalu ini tentu tak menyangka bisnisnya bakal jadi sebesar sekarang. Purdi lahir di Lampung dari sebuah keluarga transmigran sederhana. Ayahnya seorang lurah dan ibunya berdagang kain di pasar. 
Purdi hijrah ke Yogyakarta untuk kuliah di Teknik Elektro UGM, tahun 1978. Dasar Purdi suka bertualang, tahun berikutnya dia mengikuti tes di Fakultas Psikologi UGM dan diterima. Tahun 1980 mencoba daftar di Fakultas MIPA serta Bahasa Inggris IKIP Yogyakarta. Lagi-lagi diterima. Sayang, tak satu pun studinya di universitas rampung. Tapi dari sanalah muncul ide Purdi untuk membuat rumus-rumus menyelesaikan soal ujian masuk universitas negeri yang kabarnya sangat sulit itu. Lagi pula, kiriman uang kuliah dari orangtuanya juga makin seret.
Purdi mengaku ada kemiripan nasibnya dengan nasib Bill Gates dari sisi akademik. Bill Gates, si penemu perangkat lunak Microsoft itu, memang tidak lulus Harvard tapi bisa menjadi manusia terkaya di dunia dan menjadi donatur terbesar untuk perguruan tinggi tersebut. Purdi juga tidak lulus kuliah, dan sukses sebagai pengusaha. "Menjadi pengusaha tak perlu pandai. Yang penting punya jiwa petualang," kata Purdi yang mengaku bermodal nekat dan mimpi. 
Menurut Purdi, seorang pengusaha harus berani mencoba, berani gagal, dan berani sukses. "Orang kadang takut sukses dan lebih memilih mengabdi pada orang lain," katanya. Purdi tampaknya telah memilih menjadi orang sukses. "Kalau orang berani sukses, ia pasti percaya diri," ujar ayah dua anak ini.

Satukan kemampuan otak kiri dan otak kanan dalam berwirausaha

Didi Apriadi

Ide untuk menjadi entrepreneur sebenarnya baru muncul ketika saya kuliah di ITB, apalagi pada saat itu saya aktif di koperasi. Saya malah sempat membentuk CSED (center of student entrepreneurship development) pada 1994. Dalam hal ini, kami membentuk kelompok untuk mengembangkan semangat kewirausahaan pada rekan-rekan mahasiswa.

Bersama beberapa rekan di koperasi mahasiswa, mulai tingkat dua saya sudah mencoba menjalankan bisnis, tetapi tidak semuanya di TI. Saya sempat mencoba mengekspor teh, tetapi hanya bertahan selama dua bulan.

Selepas kuliah di ITB tahun 1994, saya ikut mendirikan PT Kreta Visual Dinamika yang bergerak di bidang advertising dan multimedia dan sampai saat ini masih menjadi komisaris di sana.

Kemudian saya pun mendirikan beberapa perusahaan PT Optima Infocitra Universal yang bergerak di bidang e-solution provider, PT Elga Yasa Media (ISP), Ebzoom.com (community portal), PT Optima Digital Comindo (pengembang perangkat lunak), dan PT Matriksindo (accounting software solution).

Mendirikan Optima

PT Optima Infocitra Universal didirikan pada Mei 1995 oleh tujuh orang yang semuanya lulusan ITB. Proyek pertama kami adalah proyek PDAM Bandung. Dahulu kami mengambil kesempatan yang ada sampai-sampai kurang terfokus, tetapi sekarang Optima berfokus di empat bidang: pertama, e-government, kedua, e- hospital, ketiga oil, gas, energy, transportation and distribution, dan terakhir cross industry yang di dalamnya termasuk e-finance.

Pada saat kami sudah tidak kuat menanggung biaya operasional Optima, kami mendapatkan pemodal dari Sarana Jabar Ventura (SJV) dan dua investor asing, yaitu Aiti Investment (Korea Selatan) dan Dinamic Venture Capital (Hong Kong). Ada satu lagi perusahaan Korea yang akan masuk ke Optima yaitu ICM, yang sudah listing di bursa Korea Selatan.

Dari perusahaan-perusahaan yang saya dirikan tersebut, yang saya jadikan fokus adalah Optima karena kebetulan, pada saat didirikan, saya yang memiliki mayoritas sahamnya yaitu 65%. Selain itu, saya melihat peluang Optima untuk maju lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Buktinya, pada saat didirikan, modal awalnya hanya Rp50 juta, sekarang sudah mempunyai omzet sampai Rp24 miliar. Saat ini saya hanya memiliki saham di bawah 50% karena kami membagi saham kami dengan SJV dan dua investor asing

Mengasah Bakat di Bisnis Restoran
BENNY HADISURJO

Ia tumbuh di lingkungan keluarga pemilik restoran. Orang tuanya sukses dengan Satay House. Setahun ini, peraih gelar MBA dari negara Paman Sam ini juga menekuni bisnis restoran. Waralaba restoran Popeyes asal AS untuk Indonesia pun dipegangnya di bawah bendera PT Popindo Selera Prima. Investasi per restoran mencapai Rp1 miliar. Dalam waktu setahun, restoran Popeyes telah berjumlah sepuluh, yang tersebar di Jabotabek dan satu di Surabaya. Targetnya, akhir tahun ini restoran tersebut diharapkan menjadi dua puluh.

BOB SADINO
Bagaimana mendapatkan ilmu (pengetahuan)? Menurut Bob, ilmu di dapat dari pengalaman. Pengalaman diperoleh bila ada kemauan untuk mencoba. Kemauan saja belum membuahkan apa-apa, bila tidak diikuti dengan tindakan aksi yaitu langkah pertama, alias komitmen. Komitmen akan tinggal komitmen kalau tak ada keberanian untuk menangkap peluang. Bila ketiga unsur ini sudah dimiliki berarti mobil ilmu sudah punya bensin. Tinggal menjalanan saja. Untuk membuatnya bergerak hindari kecengengan. Apa yang dimaksud Bob dengan cengeng? Sikap gampang terkendala. Itu maksudnya. "Mudah mengeluh. Dikasi jalan, mengeluh tak punya modal. Diberi modal, mengeluh tak punya kenalan (relasi, langganan). Dikasi kenalan, tak bisa ngomong, dan seterusnya," ungkap Bob. Kecengengan ini membuat orang tak akan pernah melangkah dan menguasai ilmu (pengetahuan).
Penguasaan ilmu merupakan awal proses enterpreneurship. Langkah selanjutnya adalah latihan dan latihan. Belajar dan belajar. "Kita harus membuat diri dan ilmu kita efektif bagi masyarakat. Tanpa latihan - aksi, tindakan nyata dalam masyarakat kondisi ini tak mungkin tercipta. Kita harus membuatnya jadi sifat. Untuk mencapainya kita harus membangun perilaku modest, bagaimana dengan segala kerendahan hati menjadikan ilmu kita efektif bagi masyarakat. Jadi jangan mengembangkan academic arogancy, katanya. Pada tahap ini tingkat kewirausahaan seseorang mulai mengental. Bila ilmu sudah praktis dan efektif terhadap masyarakat, tingkat selanjutnya adalah terampil. Latihan demi latihan membuat orang terlatih. Terampil. Ahli (skillful). Ilmu bukan lagi sekedar sifat, tapi sikap. Sudah menyatu organik dengan tubuh, pikiran dan perasaan. Pada tingkat ini seorang wirausahawan sudah sangat sulit dipisahkan dari naluri wirausaha. Kejelian melihat peluang menajam. Akurasi analisis meningkat. Pemahaman terhadap karakter pasar, kekuatan diri dan kompetitor, ancaman internal dan eksternal, dan peluang ciptaan lingkungan atau diri sendiri mendalam dan makin terfokus. Dalam kondisi ini semuanya seolah berlangsung otomatis. Reflek terkendali. Sesuai kata Bambang Utomo pendiri Pondok Gagasan "Praktik melahirkan teori. Sesuatu yang paling praktis adalah teori yang sempurna,".

Dalam  mencari para pengusaha muda usia 35 tahun atau  kurang, Warta  Ekonomi  menetapkan  ukuran  kuantitatif  dan  kualitatif. Ukuran kuantitatif, misalnya, minimal memiliki 10% saham, perusahaannya  sudah  beroperasi selama dua tahun,  omzet  minimal  Rp3 miliar per tahun. Adapun ukuran kualitatif, antara lain, bagaimana caranya memulai dan mengelola usaha, mempertahankan keunggulan usaha,  serta sejauh mana manfaatnya bagi lingkungan,  baik  bagi masyarakat maupun negara. 

Kriteria-kriteria tersebut kemudian kami bobot, dengan  pemberian  bobot  lebih besar kepada indikator  kualitatif.  Hasilnya? Berikut   beberapa  pengusaha muda berusia 35 tahun  atau  kurang yang layak menjadi unggulan.

Andreas Thamrin, 27
Pemilik Games Market dan Operations Manager Digitone Pty Ltd.
Sejak  SMU,  putra  pengusaha Hermes Thamrin  ini  tinggal  di Australia. Di Negeri Kanguru, pria kelahiran 17 Desember 1977 ini  berbisnis entertainment software, khususnya games, yang dijualnya via  internet.  Produknya adalah games untuk  komputer  PC,  Sony Playstation, Microsoft Xbox, Nintendo Game Cube, dan Apple Macintosh. Dengan modal uang simpanan A$30.000, omzet bisnisnya  terus meningkat hingga mencapai A$820.000 pada 2002-2003.

Kini  Andreas memulai bisnis barunya, yaitu ritel  ponsel  3G. Sejak akhir 2002 Andreas sudah mendekati pihak Hutchison Whampoa, operator 3G di Australia, supaya bisa membuka toko ritel  produk-produk  3G.  "Beda dengan di Indonesia yang  toko  ritelnya  bisa menjual  multibrand  dan  multioperator,  di  Australia  menganut prinsip multibrand, one operator," ungkap Andreas. Keuntungannya, ia  mendapat dukungan operator berupa interior  senilai  A$50.000 per toko.

Awalnya penjualan Andreas seret karena operator masih mengalami  problem  jaringan dan bentuk ponsel 3G yang besar  dan  boros baterai. Namun, pelan-pelan penjualannya meningkat. Selain  memiliki  cabang di Sydney dan Perth, dengan 50 karyawannya,  Andreas mengincar  Brisbane,  Adelaide, dan Melbourne. Ia  juga  berhasil menjadi  "Dealer of The Year", mengalahkan 150 dealer lainnya  di Australia.  Omzetnya kini sekitar A$15 juta, dan  ia  menargetkan tahun depan sekitar A$30 juta.

Alfred Boediman, 31         
CEO Starbay Development Co. Ltd.
Penyandang  gelar magister dari Universiteit Brussel,  Belgia, ini pernah menjadi profesional di Oracle dan Siemens,  Singapura. Setelah  berhasil mengumpulkan sejumlah dana,  Alfred  memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri. Dengan US$1,3 juta, yang  berasal dari tabungan serta sokongan orang tua dan dua orang temannya, ia mendirikan  usaha sendiri dengan bendera Starbay dan berbasis  di Singapura.  Alfred  turut membidani kelahiran PT  Pratama  Sukses Sejati  (dengan memiliki 40% saham), I-Kom  Communication  (40%), dan  punya saham di SNAP Media (40%), PR Sigma  Solusi  Integrasi (14%),  dan  PT mVcommerence Indonesia (2%). Tahun  lalu  Starbay membukukan laba Rp10 miliar.

Beno Pranata, 30            
Presdir PT Mitra Karya Perkasa
Lahir  di  Surabaya, 5 Mei 1974,  Beno  menghabiskan  sembilan tahun usianya  di AS untuk mengambil studi S1 dan S2. Ia mendapat ide  berbisnis  saat kuliah S2 di jurusan  finance,  Northeastern University,  Boston. Kala itu, sembari kuliah, Beno bekerja  paro waktu di sebuah perusahaan kurir layan antar.

Sepulang  dari  Negara Paman Sam, Beno  berpikir  pekerjaannya cocok  jika dikembangkan di Indonesia. Bersama tiga rekannya,  ia mendirikan  PT  Mitra Karya Perkasa pada akhir 2002.  Awal  2003, mereka  mulai menjalankan bisnis jasa layan antar produk  makanan dengan nama Pesan Delivery.

Dengan  investasi  Rp350 juta, anggaran  terbanyak  diperlukan untuk  pengembangan sistem teknologi informasi. "Di situlah  jantung usaha kami," ujar Beno. Selebihnya untuk sewa rumah  sebagai kantor.  Menurut Beno, dalam sebulan mereka bisa  mendapat  omzet Rp400-500  juta  dengan profit margin  5%-10% yang  diambil  dari komisi pemesanan restoran bersangkutan.

Bedanya  dengan layanan restoran konvensional, Pesan  Delivery memakai sistem TI sehingga lebih efisien dan cepat dalam  pengantaran.  Delivery man perusahaannya juga tidak  harus  bolak-balik dari  restoran  ke  pelanggan karena  melayani  banyak  restoran. Setelah si delivery man mengantarkan makanan ke tempat pelanggan, ia  tidak  perlu kembali ke kantor atau restoran  semula,  tetapi cukup stand-by di restoran terdekat.

Kini  Beno  memiliki 60 karyawan. Dalam  mengelola  bisnisnya, Beno  sering  berdiskusi dengan anak buahnya.  Alasannya,  justru dari  merekalah  Beno bisa mengetahui perkembangan  pasar  setiap harinya yang terus berubah, sehingga Beno tidak terlambat mengantisipasi.

Christovita Wiloto, 35      
Presdir PT Wiloto Corporation
Saat menjadi corporate secretary BPPN, nama Christovita Wiloto kerap  menghiasi media massa. Namun kini, namanya  lebih  dikenal sebagai pengusaha public relations. Dalam tempo empat tahun sejak 2000,  laki-laki berusia 35 tahun ini bisa  mengembangkan  bisnis dengan  modal  awal Rp30 juta menjadi senilai Rp6,2  miliar  pada tahun  lalu,  dengan tingkat keuntungan 30%-an.   "Mungkin  akhir tahun ini omzetnya bisa naik satu setengah kali lipat," ujarnya.

Christov  ingin  Wiloto Corp.  menjadi  perusahaan  komunikasi terintegrasi berskala internasional. Tak heran jika ia kini sibuk membangun  networking  ke beberapa negara untuk  menggaet  klien. "Ada  yang  berhasil,  ada yang gagal,"  katanya.  Ia  menyadari, menjadi  pengusaha  itu banyak risikonya. "Namun,  yang  penting, risiko  itu  harus bisa dipelajari, diantisipasi,  dan  disiapkan solusinya," ujar dia.

Walau  bisnis public relations tak membutuhkan  modal  terlalu besar, Christov menegaskan bisnisnya ini erat hubungannya  dengan kepercayaan.  Ia  berprinsip, bisnisnya  bisa  berkembang  karena memperoleh kepercayaan dari orang lain. Ia juga berupaya  menjaga networking  dan  reputasi. "Klien yang saya dapatkan  hampir  99% datang  sendiri,  bukan  kami yang  mencari,"  tuturnya.  Prinsip berikutnya  yang dipegangnya adalah bekerja  secara  profesional, smart, dan meningkatkan kompetensi serta membangun teamwork  yang solid bersama 15 orang karyawannya.

Eko Hendro Purnomo, 33      
KASAD (Komandan Setingkat Direktur) PT E Titik Tiga Komando
Lulusan  Institut  Ilmu Sosial dan Ilmu  Politik  (IISIP)  ini lebih  ngetop dengan nama Eko Patrio. Saat krisis melanda  negeri ini  pada 1998, otak bisnisnya langsung bekerja.  Diawali  dengan usaha kafe tenda, ia lalu mendirikan holding company bernama PT E Titik  Tiga Komando pada tahun 2000. Bisnisnya yang semula  hanya berupa  rumah produksi, menjalar hingga restoran,  salon,  butik, dan  percetakan.  "Saya puas menjadi pelawak, tetapi  boleh  dong melakukan diversifikasi," tuturnya, jenaka. Tahun kemarin,  rumah produksinya  mencatat omzet Rp6 miliar dengan profit margin  40%. Sementara itu, salon Labuzet yang didirikannya dengan modal Rp200 juta,  kini  beromzet Rp720 juta. Demikian juga  PT  Catur  Mitra Promosindo  yang  bergerak di bidang printing,  advertising,  dan publishing, mampu mengumpulkan omzet Rp3 miliar per tahun.

Estelita Hidayat, 32        
CEO BIDS Global Consultant
Perempuan berusia 32 tahun ini sebenarnya lebih banyak dikenal sebagai  pengusaha  periklanan  lewat PT Voxa  Integra,  yang  ia dirikan bersama kakak dan dua temannya pada 1995. Ia lalu mendirikan Innovoxa, divisi media inovatif lewat PT Voxainfini  Kreasi. Tahun  lalu Voxa Integra membukukan omzet Rp11 miliar,  sementara Innovoxa Rp10 miliar.

Kini  Estelita  menggarap  bisnis  jasa  konsultasi  manajemen bernama  BIDS Global Consultant. Ia bergabung di  perusahaan  ini pada  2001.  Saat  itu BIDS kesulitan menembus  klien,  dan  Lita diminta membuka jalan. "Saat itu kondisi BIDS  'berdarah-darah'," kenangnya. Di bawah komandonya, BIDS, yang memiliki 12  karyawan, tahun  ini mulai mencetak profit dengan omzet di atas Rp4  miliar setahun.

Lita mengakui bahwa bisnis konsultan berbeda dengan  advertising,  yang tetap dikelolanya. "Setiap harinya saya harus  membagi kerja otak kiri dan otak kanan," ucapnya. Jika berada di BIDS, ia banyak  menggunakan otak kirinya, saat di Voxa ia  lebih  dominan memakai otak kanan.

Etika  dalam berbisnis selalu dipegang teguh olehnya.  Ia  tak menampik  bahwa bisnis konsultan rawan akan kebiasaan buruk  yang tidak  sesuai  hati nurani. "Uang bawah meja,"  cetus  Lita  saat ditanya  apa yang paling meresahkannya. Sebisa mungkin Lita  berbisnis dengan bersih.

Erwien Nurwihatman, 34      
Managing Director PT Capella Sumber Intranet
Erwien  mengaku tak patah semangat meski kinerja bisnis TI  di Indonesia sedang menurun dan berdampak buruk pada tingkat penjualan perusahaannya. Ia menyebut bisnis TI memang ganas dan berisiko  tinggi.  Persaingannya ketat dan saling  mengejar  dalam  hal pengetahuan  dan teknologi. Untuk menyiasatinya,  Erwien  mencoba fokus dengan mencari nilai lebih di bidang jasa TI, seperti  jasa konsultansi dan layanan implementasi, dibandingkan dengan penjualan produk TI.

"Tren  dunia  memang  penjualan barang  TI  menurun  dibanding jasanya," ujar Erwien. Tahun lalu, ungkapnya, komposisi  pendapatan  perusahaannya  adalah  50% dari perangkat  keras,  30%  dari services,  dan 20% dari lain-lain. Omzetnya pernah  mencapai  Rp5 miliar,  tetapi  pernah juga turun hingga Rp1  miliar.  Sementara itu,  profit margin perangkat keras 15% dan services 40%.  Erwien mengaku memiliki saham kurang dari 20% di perusahaan yang  modalnya digalang bersama teman-temannya itu.

Selain  meningkatkan brand equity merek Capella,  Erwien  juga mencoba mengejar target pasar yang spesifik. "Saya ingin  menjadi spesialis  di bidang tertentu, seperti wireless,  security,  QoS, dan Linux." Sejak tahun 2002, ia menjadi partner strategis  Cisco Systems  di pasar jaringan. Ia juga berupaya setiap  tahun  harus ada produk baru dengan teknologi terkini, seraya terus meningkatkan  kemampuan  SDM  perusahaannya. "Sebenarnya  yang  saya  jual adalah  skill  SDM," tuturnya.

Fahira Fahmi Idris, 35      
Dirut PT Nabila Parcel Bunga International
Di  samping  parsel,  sudah sejak  1995  Fahira  mengembangkan bisnis  florist. Jika bisnis parselnya amat tergantung pada  hari raya, bisnis florist berjalan setiap hari. Meski begitu, pendapatannya dari bisnis parsel diakuinya masih lebih tinggi.

Dirintis  sejak 16 tahun lalu, tahun kemarin  omzet  bisnisnya mencapai Rp5-7 miliar dengan profit margin 5%-10%. Jumlah  karyawan tetapnya 55 orang, dan bisa mempekerjakan 300 orang menjelang hari-hari  besar.  "Awalnya ide itu muncul  hanya  untuk  mengisi waktu  luang  di hari libur, menjelang hari raya,"  tutur  Fahira soal bisnis parselnya.

Bersama  sepuluh temannya, Fahira mengawali  bisnisnya  dengan modal Rp500.000.  Meski ayahnya, Fahmi Idris, pengusaha terkenal, Fahira  mengaku  tak  mendapat bantuan sedikit  pun.  "Ayah  saya galak," katanya. Namun, itu justru memaksanya untuk mandiri.

Selain  mempertahankan bisnisnya, kini Fahira sudah  menyimpan rencana  ekspansi di bisnis kecantikan dengan membuka salon  one-stop  shopping. "Klien saya kebanyakan ibu-ibu, dan saya  melihat banyak salon belum bisa memenuhi kebutuhan mereka," tuturnya.

Hendy Widjaja, 34           
Managing Consultant PT Insight Consultant
Keputusan  penyandang gelar Master of Science  dari  Louisiana State  University,  AS, untuk keluar  dari  perusahaan  konsultan PricewaterhouseCoopers  (PwC)  bisa dibilang tepat.  Ia  berhenti menjadi  karyawan  pada tahun 2000. Dua tahun  kemudian,  Oktober 2002, bersama seorang seniornya di PwC, ia mendirikan perusahaan konsultan  manajemen, TI, dan perdagangan produk  TI,  berbendera Insight  Consultant. Hingga kini perusahaannya meraup  pendapatan kotor US$1 juta dengan profit margin 30% per tahun.

Ian Rangkuti, 33            
Presdir PT Natnit.net
Ian  Rangkuti  memilih berhasil  mengembangkan  usaha  bersama mitranya  dibanding  mengutamakan  besarnya  kepemilikan   usaha. "Dengan  sistem bisnis kolektif, investasi dapat ditekan,"  ujarnya. Risikonya memang bisa saja konsep bisnisnya diserobot  pihak lain. Namun, kelemahan itu dihindarinya dengan tak salah menggandeng mitra.

Melalui PT Natnit.net yang didirikan dengan modal Rp300  juta, Ian membangun bisnis perdagangan via internet yang disosialisasikan lewat tabloid Natnit.net. Perpaduan cara ini memberinya omzet Rp6-7  miliar  setahun, dengan profit margin lebih dari  10%.  Ia mengaku, pada tahun kedua modalnya sudah kembali.

Bisnis lainnya dijalin lewat VendingOn.Net. Menurut Ian,  saat ini VendingOn.net telah melakukan perdagangan online di 31 portal internet   dengan rata-rata 2-5 unit penjualan per hari per  portal.  Ian  mulai dengan menjual produk-produk  seharga  di  bawah Rp250.000  dan  menerapkan sistem cash on delivery.  Namun  kini, papar Ian, konsumen sudah berani dengan sistem transfer via  bank untuk pembelian hingga Rp1,5 juta.

Kini Ian  bersiap melakukan ekspansi ke Filipina. "Kami sedang merintis  kerja  sama  dengan perusahaan  internet  di  Filipina, seperti Yehey.com, Iskul.org, dan Findme.co.ph, mendirikan jaringan Natnit.net di sana," ungkapnya.

Iin Mintosih, 34            
Dirut PT Satu Kupu
Cuma bermodal Rp2 juta, lulusan teknik arsitektur  Universitas Atma  Jaya,  Yogyakarta, ini nekat mendirikan PT Satu  Kupu.  Iin menguasai 100% sahamnya. Kini, perusahaan yang memulai usaha pada Maret  1999 itu mempunyai omzet Rp3 miliar per tahun. Bisnis  Iin adalah membuat bantal, sprei, dan bed cover eksklusif untuk  konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Profit margin-nya 50%.

Izak Jenie, 34              
Direktur Jatis Solution

Peraih  penghargaan "Pengusaha Muda 2001" versi Ernst &  Young ini  bersama beberapa rekannya mengumpulkan uang hingga  mencapai Rp1  miliar.  Tujuannya  cuma satu:  mendirikan  perusahaan  yang akhirnya  diberi nama Jatis Solution. Lewat Jatis, mereka  sempat menggarap  proyek  internet banking BCA dan beberapa  bank  lain. Jatis pun berekspansi ke Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Filipina.  Terakhir, Izak hanya menguasai 10% saham,  karena  mayoritas saham Jatis dimiliki perusahaan modal ventura 3i.

Joseph Edi Lumban Gaol, 35  
CEO PT Antar Mitra Perkasa

Fokus  bisnis PT Antar Mitra Perkasa adalah  memberikan  nilai tambah bagi produk telekomunikasi bergerak,  berupa aplikasi data melewati  fasilitas  komunikasi, seperti SMS atau  download  ring tones. Joseph menyebut dirinya sebagai agregator yang mengirimkan content  dan  aplikasi data ke hampir semua  pelanggan  operator. "Saya  punya  semacam  short-code yang bisa  diakses  dari  semua operator," paparnya.

Setelah  sukses menggarap mobile banking BCA dan  Excelcomindo Pratama,  Joseph  merancang TV show  interaktif  "Nyit-nyit-nyit" yang pernah ditayangkan di Metro TV. Acara itu tak sekadar mengirimkan SMS interaktif, tetapi juga mengundang pemirsa berinteraksi.  Untuk  mengikuti  acara tersebut,  pemirsa  harus  mendaftar terlebih dahulu via SMS.

Saat  ini  Joseph sedang getol menggarap download  ring  tones telepon  selular. "Kami legal karena selalu membayar  royalti  ke pencipta  lagu atau komposer," ungkapnya. Ia tak menampik,  masih banyak  pelaku  industri content mobile  yang  tak  melakukannya. Padahal itulah etika dalam berbisnis.

Joseph sadar, bisnisnya ini "mahal" karena teknologinya  masih diimpor.  "Namun,  saya berani mengambil  risiko,  terutama  jika didasari  perhitungan  yang  matang," tegasnya.  Jadi,  jika  tak menambah  revenue perusahaan, ia lebih baik  tidak  berinvestasi atau meluncurkan produk baru.

Perusahaan  Joseph  kini sudah berjalan lima  tahun.  Omzetnya  Rp8 miliar per tahun. Ke depan, ia memperkirakan perusahaan  akan tumbuh 20%. "Saya optimistis itu tercapai," tandasnya.

Kanaya Tabitha, 32          
Pemilik Rumah Mode Kanaya

Ibu  satu  anak  ini merintis Rumah Mode  Kanaya  sejak  1998. Perancang  yang pernah mengikuti Hong Kong Fashion Week ini  memproduksi busana berlabel namanya sendiri, Kanaya Tabitha.  Selain mengandalkan  pendapatan dari hasil rancangan, ia  juga  melayani pembuatan  seragam  dari  berbagai  instansi,  termasuk  militer. Bahkan,  kadang  ia bertugas menjadi konsultan  fashion  Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia mengaku, tiap tahun omzetnya  mencapai Rp4 miliar dengan  profit margin  di atas 15%.

Lasman Citra, 34           
CEO Rajawali Tri Manunggal

Setelah gagal di bisnis peternakan ayam, ikan, dan  penggilingan  padi,  Lasman memutuskan untuk menjadi profesional.  Ia  pun bekerja di PT Metrodata Electronics. Setelah mendapat bekal ilmu, kepercayaan  diri Lasman kembali tumbuh untuk mendirikan  perusahaan sendiri. Tahun 1999, ia mendirikan PT Nusantara Data Solusi, sebuah perusahaan sistem integrator yang bermitra dengan Metrodata.  Setahun  kemudian, perusahaan itu  melakukan  merger  dengan Rajawali  Tri  Manunggal (RTM). Lasman menguasai  30%  saham  dan dipercaya menjadi CEO. Tahun lalu, RTM mencatat omzet US$30 juta. Kini, RTM merambah ke bisnis penyedia jasa infrastruktur  telekomunikasi dan jaringan.

Naomi Susan, 29             
Pemilik PT Ovis SendNSave

Perempuan kelahiran Januari 1975 ini sebelumnya lebih  dikenal sebagai pengusaha bisnis kartu diskon belanja. Bisnis yang  dioperasikannya  sejak 1997 itu sudah mencapai jumlah 3,7 juta  pemegang kartu. Melihat adanya potensi bisnis yang bisa  dikembangkan di  fasilitas  aplikasi data atau SMS yang sudah  umum  digunakan pengguna  ponsel yang sekarang tercatat sudah berjumlah  22  juta pengguna, ia lantas mempunyai ide bisnis baru.

Di bawah bendera PT Ovis SendNSave, sejak tahun lalu ia  menawarkan  layanan  semacam  fasilitas kartu  diskon  belanja  juga. Bedanya,  keanggotaan  dan pemanfaatan kartu diskon  belanja  itu dilakukan  lewat  SMS. Ia memperoleh   pendapatannya  dari  pulsa pengguna. "Memang saya cuma mendapat beberapa ratus perak, tetapi kuantitasnya  banyak,"  ungkapnya. Ide bisnis baru  ini  ternyata mendapatkan sambutan positif dari operator selular yang  bersedia berbagi pendapatan 50:50. "Semua operator sekarang sudah  bekerja sama dengan saya," tuturnya.

Tak  berhenti  hanya dengan dua bisnis itu,  tahun  ini  Naomi bersama  rekannya mempunyai "mainan" baru berupa  bisnis  layanan carter pesawat. Ide itu muncul ketika ia menerima banyak  keluhan orang  yang ingin berlibur ke Bali saja tetapi tidak  bisa  pergi karena mahal. Ia lantas membuat penawaran paket murah berlibur ke Bali dengan mencarter pesawat sendiri bekerja sama dengan perusahaan penerbangan Bouraq. Ia juga bekerja sama dengan biro  perjalanan  dan  hotel  membuat paket tur dan  penginapan  hotel  yang murah.  "Karena  masih  baru, pendapatannya  masih  naik  turun," ujarnya.

Ridwan Prasetyarto, 33
CEO PT eBdesk Indonesia

Sarjana  teknik  dari  Institut Teknologi  Bandung  (ITB)  ini mendirikan eBdesk bersama tiga rekannya di tahun 1999. Perusahaan perangkat lunak yang berfokus pada men- develop  portal  perusahaan ini  mulai komersial di tahun 2000. Kini, mereka mempunyai  70-an customer  yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Arab  Saudi,  dan Amerika Serikat. Di Indonesia, kliennya, antara lain, Kementerian Riset  dan Teknologi, BPPT, Astra International, Satelindo,  Bank Mandiri,  Bouraq  Airlines, dan  Magister  Manajemen  Universitas Gadjah  Mada. Tahun lalu mereka mencatat pendapatan Rp4,5  miliar dengan tingkat keuntungan bersih 30%.

Rudi Mulyono, 32
Pemilik Rally Auto Center

Setelah  sukses  membangun bengkel mobil  seluas  3.200  meter persegi,  terluas di Jawa Timur, yang bernama Rally Auto  Center, tahun  ini Rudi merambah ke bisnis rokok. Pria berusia  32  tahun ini  membangun  pabrik rokok di Kediri dengan nama PT  Alam  Mega Raya.  Rokok  dengan logo "RR" itu saat ini  menunggu  peluncuran produk  perdana. Rencananya, rokok ini tak hanya  dipasarkan  di sekitar Kediri, tetapi juga di kota-kota lainnya. 

Rudi  nekat  masuk ke bisnis rokok karena ia  merasa  konsumen perlu  alternatif  rokok yang lain. Walau sudah  ada  merek-merek rokok  terkenal,  ia  tidak gentar. Target  yang  diincar  adalah perokok kelas menengah ke bawah. Ia ingin menghadirkan rokok rasa Dji Sam Soe tetapi dengan harga kelas pinggiran.

Setelah pabrik rokoknya berjalan, Rudi akan mengembangkan kafe keluarga  yang  menyediakan fasilitas karaoke, meja  biliar,  dan live music yang menonjolkan suasana kekeluargaan. Bisnis bengkelnya?  Tetap  berjalan.  Tahun lalu omzetnya  Rp12  miliar  dengan profit  margin  17,5%.  Selain itu, Rudi  juga  mengelola  bisnis hotel, menjadi dealer Suzuki, dan mendirikan BPR.

Saleh Abdul Malik, 33
Chairman  PT Altelindo Karya Mandiri

Saleh masih setia di bisnis teknologi informasi (TI).  Belajar dari  pengalaman,  pengusaha berusia 33 tahun  ini  merasa  cukup dewasa   menghadapi apa pun situasi ekonomi yang terjadi.  "Tentu ada  pengaruhnya, tetapi saya berusaha tak lagi  bergantung  pada risiko-risiko yang ada," tegasnya.

Saleh mengungkapkan, tahun ini ia akan banyak berinvestasi  di infrastruktur  TI dan pengembangan perangkat lunak. "Saya  berani berinvestasi karena kesempatan tak datang setiap hari," paparnya. Ia  juga berencana melakukan ekspansi ke berbagai daerah,  seraya  ingin membuktikan bahwa TI bukan cuma dikuasai asing. "Bisnis  TI sebenarnya mudah," ujar Saleh.

Tahun lalu bisnis TI Saleh meraih omzet Rp100 miliar.  Padahal ia  mengaku  mengawalinya dengan tiga karyawan, modal  Rp2  juta,  dan tanpa surat izin usaha. Saleh pun terjun langsung ke lapangan menggarap pembangunan infrastruktur kabel di gedung-gedung. "Saya sendiri yang menarik kabelnya," tuturnya.

Menurut  Saleh, kunci sukses bisnisnya adalah  layanan,  bukan sekadar menjual perangkat keras atau perangkat lunak. "Ini  harus dijaga  karena  klien puas mengontrak saya  berdasarkan  service, bukan  produknya," jelasnya. Selain itu, ia harus bisa  mengelola bisnisnya   seefisien mungkin, sehingga bisa bersaing  dalam  hal  harga.

Tonton Taufik Rahman, 31
Pemilik PT Rattanland Furniture

Bisnis utama pria asal Cirebon ini adalah bisnis rotan.  Setelah berkembang, Tonton pun meluaskan usahanya ke bisnis transportasi  BBM, pom bensin. Lewat PT Budi Surya Sejahtera, tahun  lalu bisnis transportasi BBM-nya meraih omzet Rp7 miliar dengan  tingkat keuntungan 7%.

Dalam  berbisnis rotan, Tonton menembus pasaran  dunia  dengan rajin  beriklan lewat website di internet. Hasilnya  menggembirakan.  Banyak  pembeli dari mancanegara yang  menghubunginya,  dan website-nya  menduduki peringkat pertama dalam  sistem  pencarian bisnis  rotan di internet. Perusahaan rotan yang ia dirikan  pada 1999  dengan  modal Rp1 juta, hingga  pertengahan  2004  omzetnya sudah US$500.000, dan ia yakin bisa mencapai US$1 juta pada akhir 2004.

Tahun ini ia membangun pabrik rotan seluas 8.000 meter  persegi.  Dalam waktu dekat ia berencana membangun ruang pamer   untuk produk-produk  rotannya. Namun, akibat terlalu ekspansif,  Tonton berutang  Rp3,1  miliar ke bank. "Cuma, dalam  waktu  enam  tahun bakal lunas," katanya.

Tony J. Johan, 29
Presdir PT Plexis Erakarsa Pirantiniaga

Semula,  Tony yang putra pengusaha kelapa sawit  ini  diterima bekerja di Citibank. Namun, dia lebih memilih mendirikan  perusahaan  pengembangan web dengan modal awal Rp300 juta.  Ia  sendiri menggenggam  35% saham dari perusahaan yang membukukan omzet  Rp6 miliar  per  2003. Usaha yang dinamai Plasmedia  itu  dilakoninya sejak  lulus kuliah. Kini, bisnisnya berkembang ke  bidang  lain, seperti jasa implementasi, customization, maintenance, dan training

Enter supporting content here