Make your own free website on Tripod.com
Home | Not Terrorist | About Us | Philosopy | Just Do it | IQ & EQ | Education | Creative | Process | Career | Products | Product Description | Contest Page | Contact Us
Gambir Digjaya Era Mandiri
Just Do it

 

Juragan Ayam Potong dari Godean

 Dengan keuletannya, Tujo Hadi Sumarto merambah dari pengumpul ayam menjadi pengusaha besar ayam potong yang sukses.

Terik matahari menyengat kulit. Namun, di depan deretan toko di Jalan Godean Km. 7,5, Yogyakarta, kesibukan beberapa pria mengangkati kantong pakan ternak ke atas sebuah mobil pikap tak menyurut. Di antara mereka terlihat seorang lelaki setengah baya yang ikut bermandi keringat membawa zak-zak itu sambil menghitung tumpukan yang sudah berada di atas mobil, siap dikirim ke para pembeli.

Mengenakan kaus oblong, celana panjang, dan sandal kulit imitasi, ia tak berbeda dengan para pengangkut lainnya. Suaranyalah yang membedakan. Dengan tegas ia mengomandani aktivitas di siang itu. Dialah Tujo Hadi Sumarto, 50 tahun, satu dari pengusaha besar perdagangan ayam potong dan pakan ternak di Jogyakarta.

Setiap hari, Tujo, yang lebih dikenal dengan nama kecilnya Paidi, bisa menjual 25 hingga 30 ton ayam potong ke Jakarta, Bogor, dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menunjang usahanya, ia memiliki 20 truk besar dan Colt pikap, serta 10 buah sepeda motor. Tersedia pula gudang seluas 4.000 meter persegi dan tiga lokasi kandang dengan kapasitas sekitar 4.000 ekor ayam. "Untuk melanyani pembeli di sekitar sini," ujarnya.

Uang yang berputar dalam bisnis ayam potong itu ditaksir rata-rata mencapai Rp. 200 juta per hari. Dari ayam ini, Tujo telah memetik hasilnya: dua rumah besar jadi tempatknya berteduh -- salah satunya yang bernilai Rp. 850 juta baru dibangun di atas tanah seluas 550 meter persegi. Mau ke mana-mana ia tinggal menstater tiga mobil menterengnya, dua buah Baby Benz dan satu buah BMW.
Cerita Paidi bukanlah kisah Cinderella. Keberhasilan pengusaha ini bisa ditiru siapa pun yang punya tekad sekuat Tujo. Hanya lulusan sekolah rakyat (setingkat sekolah dasar), lelaki ini membangun bata demi bata istananya dengan sikapnya yang menghalalkan kerja keras, tekun dan berhemat selama bertahun-tahun.

Mewarisi bakat dagang dari ayahnya, mula-mula Paidi sekadar membantu menjual ayam potong milik ayahnya. Pada 1969, ia memulai bisnis sendiri sebagi pedagang ayam keliling. Berbekal sedikit uang dari ayahnya dan sebuah sepeda onthel dengan keranjang di belakangnya, ia keluar-masuk kampung mengumpulkan ayam dan menjualnya ke pasar-pasar di sekitar Wates, Nanggulan, Godean, Muntilan, hingga Jogjakarta.

Untuk menjual 70 ekor ayam kampung hidup, Paidi harus menggenjot sepedanya kadang sampai 35 kilometer. Ia tak berkeluh kesar. "bagaimana lagi, saya harus menjalani pekerjaan itu dengan telaten. Mau melanjutkan sekolah, orang tua tidak mampu, jadi saya mengikuti jejak orang tua berjualan ayam," tuturnya.

Genjotan onthel-nya mengalirkan rezeki. Dalam tempo 10 tahun, sepedanya bisa pensiun karena digantikan sebuah mobil Colt pikap. Jangkauan pemasarannya jelas membesar hingga ke pelosok desa di sekitar Jogjakarta. Jumlah ayam yang dijualnya meningkat hingga sekitar 500 ekor ayam kampung setiap hari

Pada saat marak usaha peternakan ayam potong, ayah tiga orang itu memberanikan diri menjadi peternak. Itu dilakukannya pada 1990. Dua tahun kemudian, seiring dengan makin sulitnya mencari ayam kampung, dagangannya dialihkan menjadi ayam negeri. Jogjakarta dianggapnya tak lagi cukup besar, maka luar daerah pun dibanjirinya dengan ayam potong yang disebar memakai truk sewaan. Hanya beberapa tahun ia menyewa, setelah itu Paidi memakai Colt L-300 pikap yang dibelinya sendiri.

Sikap wiraswasta teruji di kala krisis ekonomi mendera. Saat itu, ada peternak yang mengelola 80 ribu ayam potong yang bangkrut karena tingginya harga pakan ayam. Paidi mengambilalihnya. Truknya dijual untuk tambahan modal. Perhitunganya terbukti tepat. Ketika itu, lantaran banyak pedagang dan peternak jatuh bangkrut, pasokan ayam otomatis menurun drastis sehingga harganya melambung tinggi. Tujo pun menuai untuk melimpah.

Keberhasilan Paidi meniti buih pada saat terhadi krisis moneter tak lepas dari sikapnya yang hemat dan berhati-hati. Ia tak pernah hanya terbawa arus kebiasaan meminjam uang di bank atau membeli barang dengan sistem kredit. Dengan merendah, ia mengaku sebagai orang yang penakut. "Kalau pemberani, mungkin sudah sukses dari dulu karena belum banyak pedagang sehingga saingannya sedikit," katanya.

Namun, sikap penakutnya itu justru menolongnya karena membuat ia tak teherat utang selama masa krisis, sementara pedagang lain jatuh karena utang menumpuk. "Saya tidak suka kredit. Membeli mobil pun saya lakukan secara kontan. Kalaupun terpaksa kredit benar-benar saya perhitungkan jangan sampai nantinya tidak mampu membayar," paparnya panjang lebar. Selama berbisnis, Paidi tercatat baru sekali meminjam uang, yaitu dari PT. Sarana Jogja Ventura. Bantuan pembiayaan Rp. 200 juta itu diterimanya setahun lalu untuk menyelesaikan pembangunan rumah.

Ada lagi beberapa sifat Paidi yang cocok dengan iklim usaha yang dijalaninya. Ia, misalnya sangat menjunjung kejujuran dan menjaga kepercayaan orang. Hasilnya? Dengan bangga ia menuturkan bisa gampang berjual-beli hanya dengan menggunakan telpon. "Kadang, kalau mengambil ayam, saya hanya menyuruh sopir dengan membawa memo atau DO (delivery order), mereka sudah percaya," katanya. Kemudian ayam-ayam itu langsung dikirim lagi ke pedagang yang memesan. Tentu, tak semua kliennya seperti dirinya. Sekali it pernah kena getok. Suatu ketika ia mendapat pesanan satu truk telur ayam senilai Rp. 18 juta. Barang langsung dikirim, tapi pembayaran tak kunjung sampai hingga kini.

Satu lagi sifatnya yang susah-susah gampang untuk ditiru adalah tidak kemaruk. Ia tetap menjalani hidup sederhana, tak ada secuil kemewahan pun di tempat kerjanya di Jalan Godean, yang hanya berupa lima unit toko seluas 4 kali 3 meter. Satu ruangan digunakan untuk kantor dan yang lain menjadi gudang sekaligus toko pakan ternak yang dinamainya "Wawan Poultry Shop", mengambil nama salah seorang anaknya.

Di sana cuma ada sebuah meja tulis tua dilapisi kaca yang pojoknya sudah pecah, tiga kursi lipat, dua kursi kayu dan dua bangku panjang. Di sisi lain ruangan itu terlihat sebuah lemari dokumen besi bersusun empat dan sebuah kulkas. "Saya tidak senang dipuji, karena itu saya tidak mau mengubah penampilan. Sejak dulu yang begini, punya atau tidak punya, ya seadanya dan biasa saja," ceritanya

Tak cuma hubungannya dengan pelanggan yang harus dipelihara, tapi juga mitra kerja dan kesejahteraan para karyawannya. Sebanyak 40 orang karyawannya loyal kepadanya karena mendapat gaji dan fasilitas yang cukup. Bonus dan piknik bersama selalu menunggu mereka di setiap akhir tahun. Seperti tahun ini, ramai-ramai mereka piknik ke Jawa Timur memakai dua bus.

Dengan modal ketekunan, kejujuran, dan sikap hemat itulah Paidi menyongsong masa depan bisnis ayam potong yang menurut dia kini agak lesu. Apalagi pedagang semakin banyak sehingga tingkat persaingan makin tinggi. Kendati begitu, ia mengaku tidak mengalami penurunan omzet, tapi selama setahun terakhir sulit meningkatkan omzet. Pada tahun depan, dengan diberlakukannya perdagangan bebas dan penetapan harga standar, persaingan tentu akan semakin ketat.

"Pada saat itu, kualitas harus menjadi modal utama kami, dan servis kepada pelanggan menjadi sangat penting," kata Paidi dengan gaya bicara yang tenang. Dan, ia beruntung sudah mengantongi modal hubungan baik yang selalu terpelihara dengan para pedagang dan peternak yang menjadi mitra kerjanya. "Saya berdagang selalu menggunakan ini (menunjuk ke dada). Jadi, bagi saya, pembeli, berapa pun dia membeli, saya perlakukan sama karena pembeli adalah raja. Selain itu, ramah-tamah tidak boleh ditinggalkan," katanya sambil tersenyum. Sikap ramah-tamah dan bersahabat itu, tuturnya, penting untuk menjaga tali persaudaraan. Kalau sudah begitu, menurut dia, pelanggan akan sungkan lari ke tempat lain. Nugroho Dewanto, L.N. Idayanie (Yogyakarta)

Sumber : Majalah Tempo, Edisi 16 - 22Desember 2002


Pedagang Keliling menjadi Pengusaha Konveksi

Banyak cara atau jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk merubah nasib, agar tetap bisa berguna bagi orang lain dan dirinya sendiri. Demikian pula yang dilakukan oleh seorang perantau asal Lombok-NTB, yang mengadu nasib sebagai pedagang keliling.

Banyak cara atau jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk merubah nasib, agar tetap bisa berguna bagi orang lain dan dirinya sendiri. Demikian pula yang dilakukan oleh seorang perantau asal Lombok-NTB, yang mengadu nasib sebagai pedagang keliling. Satu lagi, profil seorang pengusaha kecil yang mampu mengaktualisasikan dirinya, yaitu dari seorang pedagang keliling hingga menjadi bukan pedagang keliling lagi.

Pada tahun 1975 Bapak Marnan, seorang pemuda asal Lombok itu, pergi merantau ke Kalimantan. Jiwa dagangnya mulai terlihat ketika pertama kali ia berkenalan dengan seorang pedagang gorden keliling dari Bandung. Selama beberapa tahun ia mencoba berjualan gorden, juga dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Pak Marnan tidak mengenal lelah, seperti layaknya ciri-ciri seorang wirausahawan. Digelutinya usaha berjualan gorden secara tekun. Sampai tahun 1984 Pak Marnan berdagang gorden tidak saja di Kalimantan, melainkan juga pernah di Jakarta, Bandung, dan Ujung Pandang.

Dengan berbekal pengalaman dan dana dari hasil berdagang keliling selama ini, pada tahun 1989 Pak Marnan mengembangkan bisnisnya sebagai pengusaha konveksi yang membuat aneka gorden, bed cover, dan sejenisnya di daerah asalnya, Lombok. Perusahaan konveksi Pak Marnan ini diberi nama UD Beruntung Jaya.

Bertolak dari keterbatasan modal, dan di pihak lain perkembangan usahanya semakin baik, menyebabkan ia berencana meningkatkan kemampuan modalnya. Akan tetapi, seperti umumnya pengusaha kecil, kecukupan modal menjadi salah satu kendala dalam melakukan ekspansi bisnisnya. Untuk berhubungan dengan lembaga keuangan perbankan dirasakan tidak mudah bagi seorang pengusaha informal seperti UD Beruntung Jaya. Kemudian ia ingat, di Mataram telah berdiri satu perusahaan modal ventura yang mengkhususkan diri dalam pembiayaan kepada usaha kecil. Perusahaan modal ventura dimaksud adalah PT Sarana NTB Ventura (NTB Ventura).

Pak Marnan mulai memikirkan untuk bekerjasama dengan NTB Ventura. Ia mencoba membuat proposal bisnis secara sederhana. Kemudian, dengan langkah dan tekad optimis ia mendatangi kantor NTB Ventura. Perusahaan modal ventura ini merasa tertarik dengan bisnis yang dijalankan oleh Pak Marnan. Selanjutnya, NTB Ventura mulai melakukan penjajagan awal. Setelah venture capital officer-nya melakukan tahapan-tahapan prosedur investasi, akhirnya NTB Ventura sampai kepada kesimpulan bahwa UD Beruntung Jaya layak untuk dijadikan sebagai perusahaan pasangan usaha (PPU). Ternyata usaha Pak Marnan tidak sia-sia. Dana tambahan yang ia dapatkan digunakan untuk modal kerja dan investasi berupa mesin jahit dan mesin obras.

Setelah bermitra dengan NTB Ventura, usaha konveksi UD Beruntung Jaya dari tahun ke tahun terus berkembang, seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Dalam melayani para konsumennya, UD Beruntung Jaya membuka satu unit toko di wilayah Sweta-Mataram. Selain itu, PPU juga menerima pesanan dari luar Lombok, seperti : Sumbawa, NTT, Maluku, dsb. Untuk mendukung luasnya daerah pemasaran, PPU juga mempunyai beberapa unit kerja di lokasi-lokasi tertentu, yang berfungsi sebagai perwakilan.

Pedagang keliling menjadi pengusaha konveksi ! Mengapa tidak ? Dengan berbekal keuletan seperti layaknya seorang wirausahawan, jalan terang akan terbuka lebar, meskipun itu dilakukan oleh seorang pengusaha kecil seperti Pak Marnan dengan UD Beruntung Jaya. Sesuai dengan nama perusahaannya, memang Pak Marnan sungguh beruntung dan berjaya !

* Artikel sumbangan dari PT Sarana NTB Ventura

Pedagang Ikan Jadi Eksportir

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan perairannya yang luas. Wajar saja, karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Dengan kawasan perairan sedemikian luas, sumberdaya hayati yang dikandungnya sangat potensial. Akan tetapi, salah satu potensi sumberdaya hayati alias berbagai jenis ikan, sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Para pelaku kegiatan ekonomi perikanan pun masih banyak yang mengelola kegiatan bisnisnya secara sederhana, siapa lagi kalau bukan para nelayan kecil, termasuk para pedagang pengumpul ikan. Artikel berikut menggambarkan secara ringkas mengenai profil seorang pengumpul ikan skala kecil, yang mempunyai cita-cita menjadi eksportir ikan.

Azmi mengawali usahanya dengan menjadi pedagang pengecer ikan di Pasar Minggu- Bengkulu pada tahun 1984. Ia memperoleh pasokan ikan dari para nelayan. Ikan yang dipasarkan adalah jenis ikan kualitas lokal. Lama-kelamaan bisnis penjualan ikannya berkembang cukup baik, dimana Azmi mampu memiliki gudang penampungan ikan sendiri di Pasar Minggu dan Pasar Timur. Kapasitas penampungan di kedua lokasi tersebut masing-masing 1,5 ton.

Saat ini bisnisnya sudah menjadi pedagang pengumpul ikan yang langsung dari kapal nelayan. Untuk menunjang kegiatan operasionalnya, Azmi membuat lagi sebuah gudang induk di Desa Kandang, Kecamatan Selebar-Bengkulu. Kapasitas gudang induk tersebut relatif besar, mencapai sekitar 30 ton. Jenis ikan yang ditampung juga semakin beragam, termasuk ikan kualitas ekspor seperti : tenggiri, kakap, beledang, bawal, kerapu, jenihin, dll. Ikan kualitas ekspor tersebut dipasarkan oleh Azmi ke Tanjung Balai, Asahan-Sumatera Utara. Sedangkan ikan kualitas lokal dipasarkan ke pasar-pasar yang ada di kota Bengkulu, Kepahyang, Curup, Lubuk Linggau, Tebing Tinggi, Lahat dan sekitarnya

Setelah berjalan selama kurang lebih 15 tahun, Azmi mencoba untuk meningkatkan bisnisnya menjadi lebih besar lagi. Untuk merealisasikan keinginannya, sementara modal sendiri terbatas, ia mulai mencari alternatif pembiayaan selain perbankan. Azmi sangat menyadari bahwasannya untuk memperoleh pinjaman dari bank belum memenuhi persyaratan teknis bank. Ia mencoba mengadakan pendekatan kepada perusahaan modal ventura yang ada di kota Bengkulu, yaitu PT Sarana Bengkulu Ventura (Bengkulu Ventura). Ia pikir, siapa tahu perusahaan modal ventura ini bisa bermitra dengannya !

Selanjutnya Bengkulu Ventura melakukan penjajagan atas proposal yang diajukan Azmi. Melihat perkembangan usaha ini cukup bagus, maka Bengkulu Ventura menjadikan Azmi sebagai perusahaan pasangan usaha (PPU). Sejak menjadi mitra Sarana Bengkulu, perkembangan usaha Azmi semakin meningkat.

Permintaan konsumen akan ikan kepada PPU semakin banyak. Untuk menjamin pasokan ikan, maka PPU membuat pola kerjasama segitiga antara PPU, Bengkulu Ventura dan nelayan. Nelayan diberikan tambahan armada kapal penangkap ikan dengan pendanaan dari Bengkulu Ventura. Dalam kerjasama ini, PPU bertindak sebagai penjamin pemasaran dan melakukan kontrol secara berkala terhadap pendapatan nelayan.

Untuk memenuhi besarnya permintaan pasar, maka di samping mengharapkan pasokan ikan dari kapal nelayan, PPU juga mengantisipasi dengan memiliki armada penangkapan ikan sendiri. Saat ini PPU sudah memiliki 5 unit, sedangkan dua unit lagi masih dalam proses pembuatan.

Dengan perkembangan usaha perikanan yang cukup baik saat ini, dalam satu tahun mendatang PPU merencanakan akan membangun sebuah coldstorage untuk mengolah hasil laut. Dengan adanya fasilitas coldstorage ini maka hasil laut Bengkulu, yang selama ini diekspor ke luar negeri melalui proses di daerah lain, dapat diolah dan diekspor langsung dari Bengkulu.

Boleh juga pengusaha kecil yang satu ini ! Dengan berbekal pengalaman sekitar 15 tahun, Azmi mampu menjadi pemain yang cukup dikenal di daerahnya. Cita-citanya melaksanakan program kemitraan dengan para nelayan kecil patut dicontoh oleh pengusaha-pengusaha lain. Kemampuannya untuk menjalin kontak dagang dengan pihak lain, terutama para nelayan kecil di Bengkulu, sedikit banyak membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Semoga cita-cita Azmi untuk menjadi eksportir ikan akan dapat direalisasikan pada waktu mendatang !


Berawal dari 50 Ekor , menjadi 80.000 Ekor

 

 Haji Muhammad Armynal, SH (63 tahun), pria kelahiran Sengkang Sulawesi Selatan merupakan salah satu Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) yang dapat dibanggakan oleh PT Sarana Jambi Ventura (SJV), oleh karena prestasinya yang dinilai sukses dalam mengembangkan peternakan ayam petelur dan sekarang sudah mampu menjadi leader pada pasar telur ayam di Jambi.

Awalnya sekitar tahun 1970 Pak Armynal ingin belajar berternak ayam petelur dengan membeli anak ayam (DOC) sebanyak 50 ekor yang dipelihara di belakang rumah tinggalnya. Usaha ini ternyata membuahkan hasil dan populasi ayamnya terus ditambah serta lokasi kandangnya sudah dipindahkan ke suatu tempat/lahan yang cukup repsentatif yaitu di RT 12 kelurahan Talang Bakung Jambi dengan luas lahan keseluruhannya + 6 ha, sehingga populasi ayam petelur sampai tahun 1989 sudah berkembang menjadi 30.000 ekor dengan produksi telur rata-rata 15.000 butir per hari.

Pada bulan Juni 1997 Armynal menerima pinangan dari PT Sarana Jambi Ventura untuk lebih mengembangkan usaha perternakannya dengan cara membeli tambahan bibit ayam sebanyak 18.000 ekor dan penambahan jumlah kandang sebanyak 6 unit sehingga populasi ayam menjadi 48.000 ekor dengan produksi telur sekitar 29.000 butir per hari.

Pada pertengahan tahun 1997, usaha Pak Armynal terkena imbas krisis moneter yaitu membengkaknya biaya operasional terutama biaya pakan yang mengalami kenaikan hampir 400% seperti harga konsentrat dari Rp. 600/Kg naik menjadi Rp. 2400/Kg.

Hal ini sudah tidak sebanding dengan harga jual telur yang tidak mengalami kenaikan pada saat itu yaitu Rp. 125 per butir. Kenaikan harga konsentrat sangat mempengaruhi komposisi biaya peternakan ayam Pak Armynal, karena dalam penyiapan makanan ayam salah satu bahan bakunya yaitu konsentrat tidak dapat diperoleh dari pasar lokal tetapi dibeli dari perusahaan besar di Lampung dan Medan. Sedangkan untuk bahan baku yang lain yaitu jagung dan dedak juga mengalami kenaikan seperti halnya konsentrat. Disamping itu bahan baku jagung dan dedak masih bisa didapatkan dari pasar lokal dalam propinsi Jambi, seperti dedak dari Kabupaten Karinci dan Tanjung Jabung dengan biaya yang relatif lebih murah. Memang pada saat-saat tertentu terjadi juga penurunan jumlah dedak dan jagung dipasaran , tetapi hal ini diantisipasi oleh Pak Armynal dengan cara membuat stok di gudang lebih banyak yaitu menjadi 4 lapis dari kebutuhan, dengan demikian bila terjadi fluktuasi harga bahan baku, maka tidak langsung memukul biaya pakan Pak Armynal.

Setiap harinya dibutuhkan sebanyak 12 ton pakan ayam. Komposisi bahan pakan ayam tersebut adalah , seperti terlihat pada tabel berikut berikut :

No Nama Bahan % Supplier
1 Dedak 30 pasar lokal
2 Jagung Giling 40 pasar lokal
3 Konsentrat 30 Medan / Lampung
Jumlah 100
Sumber : (Ahmad Mulyono, 2001)

Pada saat-saat kesulitan tersebut pada akhir Juni 1997 pihak PT Sarana Jambi Ventura berani mengambil resiko untuk membantu menambah investasi populasi ayam dan modal kerja untuk membeli makanan ayam, sehingga kelangsungan hidup ayam dapat bertahan dan berkat ketabahan serta kerja keras Pak Armynal, maka masa-masa krisis tersebut secara bertahap dapat dilampaui dengan baik.

Melihat keberhasilan Pak Armynal dalam menjalankan usaha perternakan ayam petelurnya, sehinga sampai tahun 2000 sudah menjadi market leader pasar telur ayam di Jambi, maka pada bulan Januari tahun 2000 PT Sarana Jambi Ventura kembali menambah investasinya menjadi lebih besar lagi melalui fasilitas dana JEXIM. Dengan penambahan dana JEXIM, PPU Armynal sudah mempunyai populasi ayam sebesar 80.000 ekor dengan produksi telur sekarang rata-rata 60.000 butir per hari dengan harga jual Rp.350 per butir dan usaha perternakan ayam petelur Pak Armynal telah menyerap tenaga kerja sebanyak 50 orang.

Sejak awal bermitra dengan PT Sarana Jambi Ventura sampai sekarang, Pak Armynal telah melaksanakan kewajibannya kepada PT Sarana Jambi Ventura dengan baik berupa kewajiban membayar Pokok dan Bagi Hasil. Menurut penuturannya pada PT SJV Januari 2001, Pak Armynal sangat berterima kasih kepada PT Sarana Jambi Ventura, karena dengan bantuan dana dari PT Sarana Jambi Ventura telah membuat ia tumbuh menjadi besar, disamping itu yang paling berkesan bagi Pak Armynal adalah keberanian PT Sarana Jambi Ventura untuk membantu usaha perternakan ayam petelurnya disaat ia dilanda krisis moneter.

Produksi yang cukup besar tersebut, membuat Pak Armynal harus berfikir tentang srategi pemasaran yang efektif dan efesien agar memperoleh laba yang lebih besar. Langkah yang ditempuhnya adalah membuat toko yang terletak di pinggir jalan utama yaitu di jalan Jendral Sudirman dalam Kota Jambi yang berfungsi sebagai sarana pokok mendistribusi produksi telur kepada para pelanggan. Sebagian besar dari produksi telur dipasarkan kepada para agen-agen yang sudah lama berlangganan dan sebagian kecil lagi dipasarkan kepada para pelanggan yang datang langsung ke toko. Sedangkan untuk mendistribusikan kepada para agen dalam jumlah besar itu, dibantu oleh kendaraan truk cold diesel dan mobil pick-up milik Pak Armynal sendiri.

Dengan cara yang ditempuh ini hasilnya cukup baik, dimana telur dari kandang dibawa ke toko untuk menjalani proses penyortiran dan setelah itu siap untuk diantar ke konsumen/agen baik dalam kota maupun luar kota Jambi.

Pengalaman di lapangan/tehknis Pak Armynal dalam usaha ayam petelur sudah cukup teruji hal ini terlihat dari beberapa indikator keunggulan sebagai berikut yaitu :

- Aktif
Sebagai pemimpin sekaligus pemilik usaha , Pak Armynal sangat aktif melakukan pengawasan intern di kandang dengan cara melakukan control dan monitoring setiap hari dengan baik, tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini tentang masalah yang terjadi di setiap ayam, baik itu kesehatan ayam maupun mutu makanan ayam serta masalah yang terjadi pada karyawan . Disamping itu pula pak Armynal sangat aktif pula melakukan lobi ke luar, tujuannya adalah untuk memperluas jaringan pemasaran telur ayam.

- Survive disaat krisis
Dalam keadaan krisis moneter dimana biaya operasional perternakan meningkat drastis, tetapi Pak Armynal tidak mengenal putus asa sehingga langkah-langakah dan tindakan-tindakan yang diambil masih rasional dan bisa mengendali serta menyelamatkan usaha .

Memadukan sumber daya menjadi Pendapatan.
Pak Armynal juga jeli melihat peluang yang tersedia yaitu disisi pakan ayam, Pak Armynal melakukan peramuan sendiri atau mengolah sendiri jagung dan dedak untuk memperkecil biaya pakan. Disisi yang lain ayam-ayam yang dinilai sudah kurang produktif (jarang bertelur) dan sudah memakan biaya makan saja , maka diseleksi untuk menjadi ayam afkir guna dijual menambah pendapatan. Selanjutnya limbah-limbah ayam petelur berupa tahi ayam , ditampung untuk menjadi pupuk kandang lalu dijual untuk menambah pendapatan.


Tukang Sablon menjadi Produsen Plastik

Kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa dilepaskan dari benda atau barang yang namanya plastik. Salah satu kegunaan plastik bagi manusia adalah sebagai kantong plastik untuk pembungkus yang hampir setiap hari kita gunakan. Kalau kita lihat sepintas, tampaknya tidak sulit untuk membuat kantong plastik tersebut. Ternyata, di balik kesederhanaan bentuknya, memerlukan keahlian tertentu dalam menentukan komposisi campuran bahan-bahan kimiawai yang digunakan, seolah-olah hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar dan moderen. Ternyata tidak selalu begitu. Seorang tukang sablon pun bisa membuat kantong plastik berkualitas tinggi.

H. Bernady Rudi adalah seorang pengusaha kecil di bidang persablonan dan percetakan. Ia mulai berbisnis sablon dan percetakan sejak tahun 1987. Perusahaannya ia beri nama CV Yuddys Perkasa, dengan tenaga kerja sebanyak 5 orang. Bisnis sablon dan percetakan yang digelutinya cukup berkembang, meskipun hanya bertempat di sebuah rumah petak di pinggiran kota Pekanbaru. Tempat usaha yang sempit tidak menjadikannya patah semangat. Selama kurang lebih lima tahun ia berkutat di bidang persablonan dan percetakan. Nampaknya, kompetensi Pak Bernady tidak hanya di bidang persablonan saja.

Sementara pesanan produknya dari berbagai pihak semakin banyak, termasuk kontrak kerjasama dengan PT Pertani, Pak Bernady mulai mencoba mempelajari teknik pembuatan kantong plastik, sambil mencari tambahan modal ke beberapa pihak. Ia melihat bisnis perplastikan mempunyai prospek cerah. Betul juga, siapa sih yang tidak memerlukan pembungkus ? Setelah merasa cukup mampu untuk membuat kantong plastik sendiri, Pak Bernady mencoba mencari tambahan modal untuk membeli mesin pencetak kantong plastik.
Dengan susah payah ia bertemu dengan satu-satunya perusahaan modal ventura di Riau. Ini terjadi pada tahun 1998. Riau Ventura ternyata tertarik terhadap kemampuan berbisnis Pak Bernady. Dari hasil penjajagan melalui tahap-tahap proses investasi modal ventura, akhirnya pada tahun 1998 CV Yuddys Perkasa menjadi perusahaan pasangan usaha (PPU) Riau Ventura, dan sekaligus diberikan juga dampingan manajemen.

Berbekal mesin-mesin berjumlah 5 buah, yang mempunyai kemampuan cetak 10 warna dengan kapasitas 5 ton per hari, CV Yuddys Perkasa Plastik mulai memproduksi kantong plastik. Hasil produksi kantong plastik CV Yuddys Perkasa Plastik ternyata dapat diterima oleh pasar. Hal ini terlihat dari banyaknya pesanan terhadap produknya.

Melihat kinerja perusahaannya bertambah baik, dan untuk memenuhi permintaan pasar, Pak Bernady mencoba mengembangkan produknya menjadi beberapa jenis plastik polos dan cetakan, yang terbuat dari bahan baku plastik seperti : HD, PP, dan LLDPE. Ternyata berhasil. Bahkan, sekarang Pak Bernady telah memiliki sendiri tempat usaha permanen seluas 700 m. Demikian pula halnya dengan tenaga kerja, PPU mampu menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak lagi. Selain itu, perusahaannya sekarang telah meningkat menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Yuddys Perkasa Plastik.

Berkat ketekunan dan efisiensi kerja yang terus ditingkatkan, dengan prinsip dasar selalu memuaskan pelanggan, jelas PPU ini mampu bersaing dengan produk sejenis buatan perusahaan lain. PPU mampu meningkatkan produk plastiknya, yang semula hanya 10 ton per bulan menjadi 100 ton per bulan.
Hasil kerja keras segenap crew-nya, ternyata menghasilkan prestasi tersendiri bagi PT Yuddys Perkasa Plastik. Perusahaan Pak Bernady berhasil memperoleh beberapa penghargaan dari berbagai instansi atas kemampuannya memberikan kepuasan kepada para konsumennya. Bahkan sekarang ini, pemasaran produknya tidak hanya terbatas di daerah Pekanbaru, tetapi sudah merambah ke Sumatera Barat, Jambi, dan juga ke pasar internasional di Singapura dan Malaysia.

Dengan membuat kantong plastik, pengusaha kecil ini mampu meraih dua sukses. Sukses yang pertama, berhasil menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan di pasar. Sukses kedua, memang merupakan turunan dari sukses yang pertama, bisnisnya dihargai oleh masyarakat setempat dengan diperolehnya beberapa penghargaan. Sukses ini tidak diperoleh secara cepat, melainkan setelah bersusah-payah melalui perjuangan berat, mau belajar dan disiplin tinggi selama bertahun-tahun !

Menurut Pak Bernady, perjuangannya tidak akan pernah berhenti selagi cita-citanya masih belum tercapai. Apa cita-citanya ? PT Yuddys Perkasa Plastik ingin menjadi perusahaan besar yang tangguh dan mandiri !

Juragan Batik dari Kota Pempek

Irawati Maxi dan Nugroho Adhi

KALAU saja tidak ada drum-drum oli bekas berjejer di depan rumahnya, bisa jadi orang yang baru datang di daerah itu tak akan menyangka rumah itu sebuah home industry. Maklum, kecuali untuk memasak blendsejenis perekat untuk membuat batik perada, drum-drum itu tak punya keistimewaan lain. Rumah yang terletak di kawasan Sawangan Baru, Depok, itu sama saja dengan tetangga di kanan kirinya. Teduh, tenang, tanpa hiruk pikuk para pekerjanya.
Pemilik rumah itu adalah Alwi Shihab dan Salwa. Suami istri berdarah Arab ini bisa dibilang pengusaha batik perada yang sukses. Dengan produksi sekitar 200 potong batik per hari, industri rumahan yang mereka kelola kini beromzet tak kurang dari Rp 250 juta per bulan. Batik khas Indonesia itu bukan cuma tersebar di kota-kota besar negeri ini, tapi juga sudah menyeberang ke sejumlah negara Asia, terutama Thailand dan Malaysia. Selain itu, Salwa juga berperan menularkan ilmu membuat batik perada kepada warga di sekitarnya.
Batik buatan Salwa memang digemari karena keunikannya. Sebab, dibanding dengan batik perada yang umumnya di jual di Jawa, produk Salwa agak berbeda. Perbedaannya terletak pada garis-garis ornamen yang timbul pada kain batik, sedangkan produk sejenisnya tidak. Saya mengambil ciri khas batik perada Palembang (Sumatera Selatan), kata ibu beranak satu itu. Jadi, meski tak memakai merek tertentu, konsumen bisa mengenali produk made in Salwa dari konturnya yang timbul.

Membuat batik perada memang tidak sesulit membatik yang harus mendesain corak dan gambarnya. Sebab, perada berarti teknik menghias kembali kain batik yang sudah jadi dengan glatir (semacam bubuk). Batik bercorak bunga, misalnya. Pada garis tepi ornamen bunga tersebut diberi cairan blend, kemudian setelah cairan itu kering diberi lapisan warna dengan menggunakan glatir. Biasanya, lapisan warna itu beragam, misalnya emas, perak, putih, kuning, merah, dan sebagainya. Tapi yang paling laku dan banyak peminatnya yakni yang berwarna emas, ujar Salwa.
Meski begitu, seni menghias perada tidak bisa begitu saja didapat. Salwa mengasah keahliannya sejak duduk di bangku SMP. Kebetulan, saat itu wanita kelahiran Palembang ini sekolah di Solo (Jawa Tengah) dan tinggal di Mertodranan, Pasar Kliwon, wi-layah yang banyak memiliki perajin batik. Dari kota inilah sedikit demi sedikit Salwa mempelajari seni membatik dan mengenal beragam jenis batik. Pengetahuan ini ternyata kelak sangat membantunya dalam mengembangkan usaha yang ia rintis sekarang.
Lulus SMP, Salwa kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan SMA. Saat itu, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi pengusaha batik. Apalagi setelah ia menikah dengan Alwi Shihab. Boro-boro mempelajari, mengamati seni tradisional ini pun, ia tak sempat. Hari-harinya praktis dihabiskan untuk membantu suaminya berdagang kain di Palembang.
Roda kehidupan Salwa berubah ketika suaminya membawanya hijrah ke Jakarta dan berdagang baju-baju konfeksi di Tanah Abang, pada 1984. Di pusat perdagangan tekstil itu, Salwa mulai sadar bahwa pakaian batik perada digemari oleh masyarakat. Maka, ia pun mencoba berdagang batik perada. Tapi saat itu ia tidak terlibat dalam produksinya, tapi cuma mencarikan kain sebagai bahan dasar dan menjual batik perada yang sudah jadi ke Jakarta. Seluruh proses produksinya dikerjakan di Palembang.
Ternyata, di ibu kota, batik perada ala Palembang ini laris manis. Salwa melihat peluang bagus jika batik tersebut dibuat di Jakarta. Kalau bisa dikerjakan di Jakarta, mengapa harus bolak-balik, kan tidak efisien, ujar wanita 46 tahun itu. Maka pada 1995, bersama suaminya yang setahun lebih tua, ia mulai merintis pembuatan batik perada ala Kota Pempek. Untuk itu, Salwa khusus mendatangkan dua orang perajin dari kampung halamannya, Palembang.
Meski sudah lama memiliki bekal pengetahuan tentang batik, toh tahun-tahun pertama memulai usahanya merupakan proses pembelajaran kembali bagi Salwa, dari mulai memilih motif, memberi perekat, sampai mengoleskan gliter pada kain tersebut. Salwa dan Alwi pun melakukan sejumlah inovasi agar produk yang dihasilkan berkualitas bagus dan efisien. Untuk blend, misalnya, awalnya mereka beli jadi, tapi hasilnya tidak memuaskan. Maka, Alwi pun mencoba meramu sendiri bahan perekat itu.
Sementara untuk gliter-nya tidak dibuat sendiri karena bahan itu masih diimpor dari Jepang. Selama ini, Salwa biasa membeli gliter jadi di toko-toko kimia. Bahan baku lainnya, batik jadi, biasanya dibeli di Tanah Abang. Berbagai merek bisa dipakai, misalnya Danar Hadi, Daun Dewa, dan kain panjang Cap Jago. Bahan dasarnya pun bisa dari kain katun, satin, santung, safir, beludru, dan sutera asli.

PEGAWAINYA IBU-IBU DI SEKITAR RUMAH
Selain membuat batik perada, Alwi juga membuat kaligrafi dan hiasan dinding yang menggunakan bahan baku dari batik perada. Proses pembuatannya tak jauh berbeda dengan batik perada. Cuma, bahan dasarnya biasanya terbuat dari kain polos dan Alwi harus menggambar desainnya dulu di atas kain tersebut. Biasanya, hiasan dinding yang berukuran 75x120 sentimeter dijual seharga Rp 200 ribu per buah, termasuk bingkainya. Sementara kaligrafi berukuran 100x60 sentimeter dijual seharga Rp 30 ribu per buah.
Harga jual batik perada sendiri bervariasi. Untuk sepotong kain panjang, harganya mulai Rp 30 ribu sampai ratusan ribu. Semua tergantung jenis kain dan tingkat kerumitan motifnya. Untuk batik Danar Hadi biasanya dijual seharga Rp 75 ribu per potong. Dan yang paling mahal terbuat dari kain sutera yang bisa mencapai Rp 300 ribu per potong.
Berapa keuntungannya? Untuk setiap potong kain, biasanya kami mengambil untung tidak besar, hanya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, kata Salwa. Memang, bagi pasangan itu, keuntungan kecil tidak masalah. Yang penting bagi mereka adalah uangnya bisa berputar cepat. Demikian pula dengan pembayarannya. Para pelanggannya bisa membayar secara kontan maupun giro bilyet berjangka waktu 1 sampai 2 bulan.
Untuk memasarkan batik perada buatannya ke luar Jawa dan luar negeri, biasanya Alwi dan Salwa memakai jasa toko langganannya di Tanah Abang. Sementara yang dijual di Jakarta bisa mengambil sendiri dari rumah Salwa. Dan agar produksinya laku, Salwa sengaja tak mencantumkan merek. Jadi, pemilik toko bebas memberi merek apa pun. Untuk sementara begitu dulu. Karena, kalau pakai merek sendiri, bisa-bisa para pedagang tidak mau beli, katanya. Meski demikian, itu tak berarti ia mengubur keinginan memiliki merek sendiri. Begitu juga dengan proses ekspor. Suatu saat ia ingin melakukannya tanpa menggunakan jasa perantara. Tapi sampai saat ini kami belum punya tenaga karena sudah repot mengurus yang sekarang, ujarnya.
Memang, saat ini Salwa tak memiliki tenaga banyak untuk mengurus masalah itu. Kini, ia hanya memiliki karyawan tetap sebanyak 7 orang. Tugasnya memberi gliter pada kain yang sudah di beri blend. Sementara perajin yang memberi blend adalah ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya. Jumlahnya mencapai 100 orang lebih. Banyak di antara mereka adalah istri tukang ojek dan caddy di lapangan golf. Para perajin itu diupah Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kain, tergantung motifnya. Biasanya, mereka membutuhkan waktu 2-3 jam untuk memberi blend pada kain. Dalam sehari, biasanya mereka bisa menyelesaikan 3-4 potong kain.
Untuk mengontrol hasil karya para perajin itu, biasanya Salwa memberi nomor pada setiap kain. Jadi, bila ada yang cacat saat memberi blend, hal itu bisa langsung diketahui dan dikembalikan ke si perajin untuk diperbaiki. Saat itu biasanya dimanfaatkan Salwa untuk menularkan ilmunya kepada para perajin. Ia menjelaskan cara memberi blend yang benar agar batik perada yang dihasilkan memiliki kualitas bagus. Saya juga senang kalau akhirnya mereka bisa membuat batik perada sendiri, tuturnya sembari mengenang saat-saat ia belajar membatik.


H. Ikrom Ke Amerika Bersama Tempe
Bermodal awal Rp 500 ribu, Haji Ikrom mampu memasarkan keripik tempenya hingga ke Amerika Serikat. Kini, omzetnya Rp 4 juta per hari.

Lutfi Yusniar dan Winuranto Adhi (Malang)
 
KALAU Anda ke Malang, jangan lupa beli keripik tempe. Pesan singkat dari mulut ke mulut itulah yang membuat Haji Ikrom tak menyangka kalau keripik tempe Abadi-nya bisa melanglang buana hingga ke Amerika Serikat. Ia pun semakin percaya diri untuk terus mengembangkan bisnis yang telah dirintis bersama istrinya sejak tahun 1970.

Cerita soal keripik tempe sampai ke Negeri Abang Sam itu berawal dari surat PT Fajar Jaya di Jakarta yang ditujukan kepada Ikrom pada 1997 lalu. Dalam suratnya, pimpinan Fajar Jaya melampirkan surat dari koleganya di Amerika yang ingin mencari info tentang keripik tempe Abadi. Si kolega ini mengaku kesengsem dengan produk Ikrom ketika ia berkunjung ke Malang beberapa ta-hun sebelumnya.
Kemudian, pihak Fajar Jaya menemui Ikrom dan memintanya untuk mengekspor keripik tempe ke Amerika. Awalnya, pengiriman produk hanya berkisar 50 kilogram saja. Namun, lama-kelamaan permintaan meningkat hingga 150 kilogram tiap kali kirim. Dus, hingga kini, urusan ekspor sepenuhnya ditangani Fajar Jaya. Permintaan pengiriman minimal dua bulan sekali. Nilainya sudah mencapai ratusan juta rupiah.
Kisah sukses lain dari Ikrom adalah tatkala pro-duknya masuk dalam buku panduan hotel-hotel papan atas di Kota Malang sebagai camilan berkelas. Tak jarang pihak hotel membawa tamu-tamunya berkunjung ke outlet Abadi di kawasan Ciliwung karena ingin membeli keripik tempe sebagai oleh-oleh. Tak hanya wisatawan domestik, tapi juga dari mancanegara, ujar kakek delapan cucu yang kini berusia sekitar 80 tahun ini.

PENSIUNAN TENTARA
Prestasi itulah yang menjadikan namanya terkenal dan masuk dalam deretan pengusaha terkemuka di Malang. Namun, tetap saja ada kisah sedih, tatkala ia ditipu salah satu agen di Jakarta pada 1985. Kerugiannya sekitar Rp 100 juta rupiah. Toh, semua itu dilakoni Ikrom dengan tabah, dianggap sebagai salah satu ujian.

Yang pasti, hanya sedikit yang tahu kalau ia pensiunan tentara berpangkat terakhir peltu (pembantu letnan satu) dari kesatuan Korem 083 Baladhika Jaya Malang. Empat tahun menjelang pensiun, ia sudah ancang-ancang, mencari usaha yang bisa menghidupi istri dan keempat anaknya selain dari uang pensiunan. Karena di lingkungannya banyak produsen tempe, akhirnya ia mencoba membuat keripik tempe.

Ikrom bersama istrinya (almarhumah) Sumiatun bahu-membahu mengembangkan usaha dengan modal awal Rp 500 ribu. Merek Abadi merupakan ide ayah mertuanya, S.M. Tohir, bekas agen koran Abadi yang dibredel pemerintah. Produksi pertamanya sekitar 5 kilogram. Itu pun yang 1 kilogram dibagi-bagikan ke tetangganya, untuk mencari tahu tingkat kelezatan keripik tempe buatan sang istri.

Setelah rasanya dinyatakan yahud, layak jual, Ikrom mulai berani memasarkan produknya. Selepas zuhur, dengan diantar becak, ia menuju ke pasar, toko-toko, dan rumah-rumah makan untuk menitipkan keripik. Menjelang magrib baru ia pulang ke rumah. Lalu, setiap hari Minggu, Ikrom memasarkan keripik ke Surabaya. Itu dilakukan terus-menerus hingga pasarnya berkembang sampai ke Jakarta dan Bali.

PER HARI 6 KUINTAL
Sebagai manusia, Ikrom tetap saja tidak puas dengan hasil yang diperoleh. Ia terus berkreasi sehingga terciptalah produk selain keripik tempe: mulai dari keripik nangka, bayam, apel, salak, belut, hingga bekicot. Kini, produknya itu tertata rapi di etalase outlet-nya. Harga yang dipatok pun tergolong murah, dari Rp 4.000 untuk keripik bayam hingga Rp 10.500 untuk keripik tempe spesial berukuran 500 gram.

Meski demikian, kata pengurus takmir masjid di kampungnya itu, keripik dari aneka macam bahan tersebut hanyalah variasi saja. Produk utamanya tetap keripik tempe yang rata-rata volume produksinya mencapai 6 kuintal per hari. Sedangkan omzetnya mencapai Rp 3-4 juta per hari. Omzet ini akan naik pesat pada hari raya dan musim liburan. Seperti Lebaran tahun kemarin, ruas jalan di depan outlet Ikrom macet total dipenuhi mobil-mobil para pemudik yang hendak menyerbu keripik Abadi. Luar biasa bukan?

Kini, outlet Haji Ikrom kelihatan bersih dan rapi. Ruangan yang menebar aroma wangi itu berlantai putih mengilat. Di etalase, berjajar rapi berbagai jenis keripik. Karyawannya pun membengkak menjadi 17 orang, 8 orang bagian penggorengan, 3 orang bagian pembungkusan, 4 orang bagian pengirisan, dan 2 orang bertindak sebagai tenaga pengantar atau pemasaran. Bukan itu saja. Bahan baku yang berupa tempe mentah itu telah diproduksi sendiri di salah satu rumah Haji Ikrom di Jalan Batu Bara 87, Malang.

Dan, yang membuat mantan tentara ini bangga, peralatan pembuat tempe keripik di perusahaan Abadi ini tidaklah tradisional lagi. Bila dulu tempe diiris secara manual, kini dengan mesin otomatis. Dulu mereka menggoreng dengan bantuan kompor minyak tanah, kini dengan kompor gas. Dalam pembuatan tempe, sekarang ada mesin khusus untuk mengupas kulit kedelai, tak lagi dengan cara diinjak-injak.

Begitu pun untuk menutup plastik kemasan, tidak menggunakan lilin lagi, tapi dengan alat pres tersendiri. Karena itu, kemasannya lebih rapi. Tak heran jika banyak pejabat Kota Malang menjadi pelanggan tetapnya. Sekarang, Haji Ikrom tinggal menuai buah kerja kerasnya merintis usaha keripik tempe yang kini dikelola keempat anaknya.

Untung Lumayan  RISIKO KECIL

Di pasar tradisional, air kelapa yang merupakan limbah cair dari para pedagang kelapa parut umumnya hanya terbuang percuma. Namun ditangan Sahatman Manik, limbah yang terbuang tersebut dapat menjadi makanan yang menyegarkan, dan menjadi lahan bisnis yang memberikan margin menggiurkan, sampai 300%.

Guru Sekolah Dasar Negeri Sukmajaya ini memulai bisnis nata de coco sejak 3 tahun lalu. Dimulai dari membuat nata kecil-kecilan, hanya 100 kg saja. Kemudian berkembang menjadi rata-rata 1,2 ton/Minggu.

Proses pembuatan nata de coco sendiri, tidak terlalu rumit dan tidak butuh teknologi tinggi. Cukup dengan menyiapkan nampan-nampan plastik sebagai media fermentasi. Lantas air kelapa dimasukan ke dalam panci, dan direbus sekitar 2 jam. Selanjutnya, dalam setiap 100 lt air kelapa ditambahkan 300 gr gula putih, 300 gr zet A (sejenis bahan kimia berbentuk serbuk yang berperan dalam proses pembentukan lembaran-lembaran nata de coco) dan 1 sendok makan sitrun. Setelah mendidih, air kelapa dituangkan dalam nampan-nampan plastik, dan dibiarkan hingga dingin.

Setelah dingin, dalam setiap nampan (ukuran 1 lt) ditambahkan sekitar 150 cc bibit nata dan ditutup rapat dengan kertas koran. Lalu nampan-nampak tadi diikat dengan karet-karet pengikat untuk diproses fermentasi selama 7 hari. Setelah 6 sampai 7 hari, akan terlihat lembaran-lembaran putih dengan tinggi sekitar 1 cm hingga 1 cm. Lembaran putih itulah yang dikenal sebagai nata de coco.

Khusus untuk bibit nata de coco, selain dapat dibeli di toko-toko kimia seharga Rp 15.000/botol ukuran 1 lt, juga dapat diproduksi sendiri. Untuk pembuatannya, dari 25 lt air kelapa menghasilkan 60 botol bibit yang dapat digunakan untuk keperluan selama 6 bulan.

Sedangkan harga jual nata de coco, Rp 1000 per lembar. "Setiap lembar nata beratnya 1 kg," kata Sahatman Manik. Berarti, jika membuat 1,2 ton nata/minggu maka akan menghasilkan Rp1,2 juta atau Rp 4,8 juta/bulan. Sebuah angka yang relatif besar dibandingkan dengan penghasilannya sebagai guru SDN.

Selanjutnya, para pengecer yang datang ke rumah Manik membeli lembaran-lembaran nata tadi dan memotong-motong sendiri lembaran nata tersebut dengan ukuran 1 X 1 cm. Potongan-potongan itulah yang kemudian dijual ke konsumen atau diolah kembali menjadi manisan, minuman ringan, campuran es teller atau dikemas dalam gelas plastik dan dijual Rp 500/gelas. Sahatman sendiri mengaku, diwaktu lalu sempat mengusahakan nata olahan. Namun dengan semakin tingginya permintaan dia mengaku tidak memiliki waktu untuk mengolah nata tersebut. "Sekarang saya lebih berkonsentrasi pada pembuatan natanya saja. Biar olahannya menjadi rejeki bagi pengecer, ujarnya.

Permintaan akan nata menurut

Manik semakin besar. Selain dari kawasan Depok dia juga mengaku mendapatkan order dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. "Bulan lalu saya mendapat order 7 ton nata/minggu dari Bandung tetapi saya tidak menyanggupi sebab tidak ada modal dan tenaga kerja," keluh Manik.

Resep sukses membuat nata menurut Sahatman, campurannya harus pas, air kelapa tidak boleh tercampur dengan cairan lain. Kebersihan nampan dan botol serta kertas koran yang menutup calon nata tidak boleh bocor, basah atau sobek. "Salah satu syarat saja tidak terpenuhi maka nata tidak akan jadi alias kegagalan proses fermentasi," kata Manik serius. Beberapa kali kegagalan yang sempat dialaminya seringkali dipengaruhi oleh kurang bersihnya nampan dan botol sebagai media fermentasi serta air kelapa yang diperoleh dari pedagang kelapa telah tercampur oleh cairan lainnya, tambahnya.

Untuk memproduksi nata hingga 7 ton, Manik merasa kesulitan khususnya dana. Karena harus menambah tungku untuk memasak, panci, membeli 7000 buah nampan plastik serta jerigen penampung air kelapa.Belum lagi ditambah dengan kebutuhan transportasi untuk mengangkut air kelapa dari pasar.

Selain kendala pendanaan, masalah lain adalah kesulitan mencari tenaga kerja yang setia. "Mereka umumnya tidak mau dianggap sebagai tukang masak air dan mencuci nampan sebab upah 10 ribu per 100 kg termasuk mencuci nampan dan botol. Inilah yang mereka tidak mau," kata Manik. Ir

Profil Pengusaha Jeans Depok

Sumber : Kontan, Edisi 15/VI, 15 Januari 2002
Oleh : Titis Nurdiana, Priyanto Sukandar

Perjalanan bisnis seorang tukang jahit

Dengan modal mesin jahit tua, pria asal Tasikmalaya itu merintis usaha jahitnya di bawah pohon akasia. Kini celana jins buatan Rahmat menjadi incaran para mahasiswa dan selebritis. Kuncinya adalah kerja keras, menjaga kualitas, dan memasang harga murah.

Celana jins memang bukan pakaian tradisional Indonesia. Tapi, hampir sebagian besar penduduk di kota-kota besar sudah mengenalnya dan mungkin pernah memakai celana para koboi itu. Malah, di kalangan anak muda celana jins sudah seperti pakaian wajib. Alasan ini pula yang mendorong Rahmat untuk menekuni usaha pembuatan celana jins.

Kini, celana jins buatan Rahmat tidak cuma mampu menafkahi keluarga, tapi juga boleh dikatakan sukses. Buktinya, pria asal Tasikmalaya ini telah memiliki beberapa gerai yang membuat ratusan celana jins setiap hari. Di saat mendekati hari-hari besar, seperti Idul Fitri dan Natal, satu gerai milik Rahmat rata-rata mampu membuat 300 potong. Tak berlebihan kalau bekas tukang ojek ini mendapat julukan Raja Jins dari mahasiswa maupun penduduk Depok.

Tapi, sukses itu harus diraih Rahmat dengan bersakit-sakit dahulu. Saya benar-benar merintisnya dari nol, kenangnya. Berbekal kemampuan menjahit, 1978, Rahmat mengawali profesinya di Depok. Usaha ini hanya dia jalani selama tiga tahun karena harus hijrah ke Bandung.

Di Kota Kembang ini pun Rahmat tetap menekuni usaha jahitan. Namun, ketatnya persaingan telah memaksanya kembali ke tanah kelahiran, Tasikmalaya. Di Kota Payung itu Rakmat tidak lagi menekuni profesi sebagai tukang jahit. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia mencoba mengadu nasib sebagai tukang ojek merangkap tukang batu. Mencari keberuntungan lain, ujarnya.

Meski sudah banting tulang, duit yang dia peroleh dari mengojek dan tukang batu ternyata tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tak cukup buat makan istri dan dua anak, ujar Rahmat.

Didesak oleh kebutuhan rumah tangga, tahun 1993 Rahmat memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Jakarta. Tahu-tahu saya ingat kembali dengan Depok, katanya. Berbekal uang Rp 100.000 hasil pinjaman dari tetangga, Rahmat mencoba peruntungan nasib di pinggiran metropolitan. Tidak tahu nasib saya akan bagaimana. Yang saya tahu hanya menjahit, ujarnya lagi.

Dengan uang hasil pinjaman itulah Rahmat menyewa tanah 2,5 m meter di depan stasiun Depok untuk menjadi tempat tinggal.

Merintis usaha di bawah pohon akasia

Kendati sudah punya tempat tinggal, perkerjaan untuk menafkahi keluarga tak kunjung diperoleh. Sementara niatan untuk membuka jahitan terbentur soal modal mesin jahit. Beruntung, suatu hari Rahmat melihat seorang tukang abu gosok keliling yang lewat di depan stasiun Depok membawa mesin jahit. Setelah melalui tawar-menawar lumayan alot, sebuah mesin jahit tua akhirnya berhasil dimiliki Rahmat. Harganya hanya Rp 12.500, katanya.

Bermodal mesin jahit tangan, plus sebuah kursi dan meja, Rahmat membuka usaha jahit di bawah pohon akasia. Tapi, akibatnya Rahmat harus rela kehujanan dan kepanasan. Dia pun tak jarang tertidur di kursi kerja saat menunggu orang yang mau menjahitkan pakaian. Pokoknya nongkrong di situ, katanya.

Ketekunan dan usaha keras akhirnya membuahkan hasil. Rahmat mulai kedatangan pelanggan untuk memermak jins. Mungkin mereka iba dan kasihan ngelihat saya tiap hari, kata Rahmat terkekeh. Usaha jahitnya mulai dikenal banyak orang lewat mulut ke mulut. Apalagi, usaha memperbaiki jins masih jarang ada di Depok, katanya.

Tentu saja, makin banyak pelanggan yang datang makin banyak pula kemauan yang harus dilayani. Apalagi kebanyakan pelanggan Rahmat adalah para mahasiswa yang kuliah di Depok. Tak hanya permak, banyak pula yang minta dibuatkan celana jins dengan berbagai model, katanya.

Lantaran tak punya uang untuk membeli bahan, Rahmat sering meminta pelanggannya membayar di muka. Untuk beli kain, lanjutnya. Beruntung, pelanggan yang kebanyakan mahasiswa itu mengerti kondisi keuangan Rahmat yang cekak. Dibantu sang istri, usaha jahitnya mulai dikenal penduduk Depok.

Baru tahun 1994 ia berani mempekerjakan tiga orang karyawan. Tentu saja, dengan makin majunya usaha, Rahmat tak lagi duduk di bawah pohon. Pindah, ngontrak tak jauh dari pohon akasia, kenangnya.

Tahun 1998 boleh dibilang tahun keberuntungan bagi Rahmat. Krisis ekonomi, yang mendorong barang impor melambung tinggi, membuat usaha jahitnya berkembang pesat. Harga jins impor tak kebeli kantung mahasiswa, ujar Rahmat. Tak mengherankan, tahun itu juga ia harus merekrut 28 karyawan baru untuk memenuhi pesanan yang bertubi-tubi datang. Kalau tidak, banyak pelanggan yang kecewa, ujarnya.

Kini, Rahmat sudah bisa merasakan nikmatnya buah berakit-rakit ke hulu. Setiap bulan, ketujuh gerainya rata-rata menerima pesanan 6.000 potong celana jins. Kalau setiap potong celana dijual dengan harga Rp 80.000, hitung sendiri berapa banyak uang yang masuk ke kantung Rahmat. Belum lagi pemasukan dari permak jins atau jahitan untuk setelan safari, jas, dan rok.

Meski tergolong laris, usahanya tak semulus jalan tol. Maklum, banyak pelanggan mahasiswa yang tidak mengambil barangnya. Jumlahnya lumayan banyak, ujarnya. Toh, Rahmat tak pernah kehilangan akal. Biasanya, celana atau pakaian yang tak ditebus pelanggannya dijual dengan harga miring. Yang penting balik modal, katanya.

Berbeda dengan ketika memulai usaha, sekarang Rahmat harus hati-hati dalam mengatur aliran kas (cash flow) usahanya. Bukan karena dia ingin lebih kaya. Tidak. Tapi, Rahmat juga harus memperhatikan 95 karyawan yang menggantungkan nafkah padanya.

Obsesi Tukang Jahit sebelum Pensiun

Dilahirkan 49 tahun silam di Tasikmalaya, Rahmat kecil memang sudah akrab dengan kain. Sebagai anak pedagang kain dan pakaian, ia sudah mampu membedakan kain yang berkualitas baik dan tidak. Bahkan, menurut pengakuannya, kualitas kain bisa diketahuinya dengan hanya sekali sentuh.

Berbekal kemampuan seperti itu, Rahmat menjadi tidak mudah ditipu pedagang kain yang menawarkan dagangan. Kain yang bagus makin lama makin enak dipakai, ujar Rahmat seolah ingin membuka rahasia. Keahlian menjahit diperoleh setelah Rahmat ikut orang yang membuka usaha menjahit.

Boleh jadi, kedua keahlian itulah yang membuat usaha celana jins Rahmat di Depok maju pesat. Kelebihan lain, meski sudah dikenal luas oleh masyarakat, dia berani menjual jins buatannya dengan harga murah. Maklum, meski pelanggannya sudah merambah sampai kalangan selebritis, mahasiswa tetap menjadi bidikan utama usaha Rahmat. Mereka yang menjadikan saya seperti sekarang ini, ujar ayah tiga orang anak ini.

Mahasiswa juga, agaknya, yang mengilhami Rahmat untuk membuka gerai jins di tiap kampus. Usaha ini telah dirintisnya dengan membuka pojok jins di dekat kampus Universitas Pancasila. Hasilnya? Lumayan, setiap hari Rahmat mampu membuat 90 potong celana jins. Selain pasarnya masih terbuka lebar, mereka adalah pasar potensial, katanya.

Tak hanya itu. Rahmat ternyata masih menyimpan obsesi untuk memproduksi 200 potong celana setiap hari. Kalau sudah tercapai, lega hati ini, kata Rahmat.

Ekspansi usaha memang harus dirintis dari sekarang, karena Rahmat berniat mewariskan usaha ke anak-anaknya. Lima tahun lagi saya ingin istirahat dan kembali ke Tasikmalaya, ujar Rahmat. Dia tak bermaksud kembali menekuni profesi sebagai tukang ojek atau tukang batu, tapi cuma ingin menghabiskan masa tuannya di Tasikmalaya dengan istri tercinta, Masitoh

Kisah Sukses Perajin Blitar

Sumber: Suara Pembaruan

Presiden pertama RI Soekarno (Bung Karno), yang wafat 30 tahun lalu (21 Juni 1971), dimakamkan di Blitar. Pengunjung makam Bung Karno datang dari berbagai tempat. Pengunjung ramai pada hari-hari libur, sedang kalau dirata-rata per hari, mencapai sekitar 750 orang.

Tingkat kunjungan itu mampu menjadikan kawasan di sekitar kompleks makam Bung Karno (BK) menjadi pasar bagi barang-barang dagangan hasil kerajinan para perajin di lima kelurahan di Blitar.

Dari 212 unit usaha kerajinan yang menyerap 546 tenaga kerja, setahunnya rata-rata mampu menghasilkan omzet penjualan bernilai Rp 258 juta atau 103.200 barang suvenir.

Produk utama di sana adalah gendang, guci, kap lampu, dan kinangan. Sedangkan sisa bubutan kayu, yang kecil-kecil, diproses lagi menjadi mainan anak-anak, seperti yoyo, ketapel, lelean, dan gantungan kunci.

Sebanyak 80 persen dari produk sampingan itu terserap oleh pengunjung makam BK. Tidak mengherankan kalau kemudian banyak success story dari para perajin.

Marnu (51 tahun), warga Desa Bendogerit, misalnya, mengawali aktivitas usahanya dari 15 tahun memburuh di perusahaan pembubutan.

Dari hasil tabungannya, pada tahun 1989, dia membuka usaha sendiri, dan ternyata perkembangannya cukup baik. Saat ini, Marnu mengkhususkan diri hanya memproduksi kinangan (tempat bahan untuk menginang) sebanyak 100 biji/hari.

Pemasarannya mudah. Setiap bulan sudah ada pengepul yang datang membeli atau mengambil pesanan di rumahnya. Harga per unit kinangan Rp 7.500.

Kisah sukses juga dialami perajin Mulyono yang mengawali bisnis dari berjualan mainan anak-anak, yoyo. Seperti dikisahkan Nyonya Mulyono, suaminya otodidak, belajar membubut di rumah hingga akhirnya banyak pesanan berdatangan, hingga akhirnya dia memproduksi dalam jumlah besar untuk dijual bebas.

Pada masa sebelum krisis moneter (krismon), tahun 1989-90-an, pihaknya mampu mengirim satu truk produksi bubutannya, seperti kap lampu, asbak, vas bunga, kinangan, dan sebagainya ke Jakarta. Tetapi, setelah masa krismon, dia tidak lagi mengirim produk ke Jakarta, melainkan hanya berproduksi sesuai pesanan. Ibaratnya, kalau dulu kita ini perusahaan konveksi, tetapi sekarang hanya jadi tukang jahit, katanya.

Dari hasil usaha itu, Sumarno berhasil menyekolahkan anak-anaknya, seorang sudah sarjana, dua masih kuliah, dan dua masih duduk di bangku SMU dan SD. Selain itu, dia bisa membangun rumah cukup megah dan membeli sebuah mobil keluarga.

Ke Luar Daerah

Pelaksana Tugas (Plt) Kasie Industri Agro dan Hasil Hutan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar, Guntur SE, yang ditemui mengatakan, pesatnya perkembangan perajin bubutan kayu memang tidak terlepas dari keberadaan makam BK. Sekitar 60 sampai 80 persen hasil produksinya diserap oleh pengunjung makam BK.

Sedangkan produk selebihnya dipasarkan ke luar daerah, seperti Bali, Solo, dan Jakarta. Bahkan, sebagian dari produk kerajinan Blitar, seperti gendang dan mainan anak-anak, juga diekspor melalui para pedagang di Bali. Blitar punya produksi, tetapi Bali yang punya nama. Tak masalah, karena mereka memang yang punya pasar luar negeri, katanya.

Selain perajin, sudah pasti, hal yang sama juga dinikmati oleh para pedagang kios dan pedagang asongan yang menjajakan produk-produk hasil kerajinan masyarakat setempat. Para pedagang makanan dan Pemda Blitar juga turut menikmati hasil kunjungan wisatawan

Setiap Jengkal Adalah Rezeki 
Stan di emperan perkulakan dan grosir laku keras

Bagus Marsudi, Barly H. Noe, Sri Sayekti, Sianne Komara 

Tak kalah dengan mal-mal, stan di emperan pusat perkulakan ternyata banyak diminati. Harga sewanya boleh tinggi, tapi itu sebanding dengan omzet usahanya. Bebas dari porotan preman lagi. 

Ada gula ada semut. Begitu pula yang terjadi jika pada suatu tempat dipadati manusia, pasti diramaikan oleh pedagang. Lihat saja. Setiap ada demonstrasi, di belakangnya turut juga konvoi pedagang minuman dan makanan. Bukan ikut demo, tapi lantaran cerdik melihat peluang pasar. Risiko urusan belakangan. 
Hal yang sama dianut para pedagang di pusat-pusat perkulakan. Seolah tak gentar oleh bayang-bayang raksasa ritel tempat mereka ngendon, para pedagang itu justru merasa aman. Banyaknya pengunjung yang hendak belanja borongan, terutama Sabtu-Minggu, menjadi sasaran empuk. Barangkali para pedagang itu pun berharap turut terpercik anggaran memborong kebutuhan rumah tangga. 
Lantaran begitu potensialnya ceruk pasar ini, para pengelola pusat perkulakan pun tak segan menyewakan space melompong itu. Lokasinya berada di jalur utama keluar masuk para pengunjung. Entah itu di lobi tunggu atau koridor, bahkan di emperan; yang pasti tetap ada dalam bagian dalam bangunan. Umpamanya saja di dekat pintu keluar perkulakan Makro, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sana berjejer 10 stan jualan dari makanan-minuman sampai pajangan dinding. Begitu pula di Goro, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sepanjang koridornya dipadati oleh 52 stan pedagang, mulai dari tukang kunci sampai sales perumahan.
Bagi pengelola Makro, keputusan untuk menyediakan tempat itu tak lebih dari good will perusahaan. Pemerintah tak pernah mengatur soal kewajiban pusat perkulakan terhadap pedagang kecil, ujar salah satu manajer yang enggan disebut namanya. Keberadaan pedagang itu pun legal. Ada syarat yang harus dipenuhi dalam perjanjian, terusnya. Mereka tak boleh menjual barang yang sudah dijual Makro. Lalu, kontraknya pun diperpanjang per bulan. 
Sudah begitu, pihak pengelola pun tak perlu repot menyiapkan tempat khusus; cukup menentukan lokasi mana yang boleh ditempati sebagai stan. Selanjutnya, soal mau membuat stan seperti apa, itu terserah pedagang. Asal bukan stan permanen. Goro, misalnya, menyediakan lahannya seluas 480 m2 untuk pedagang nonpermanen. Pedagang dibebaskan memilih luas lahan, dari 1 m2 sampai 40 m2.
Perkulakan Alfa malah membuka pintu lebar-lebar untuk sewa space. Tak heran, penyewanya pun tak cuma pedagang kecil, tapi peritel terkenal seperti Texas Fried Chicken, KFC, McDonalds, Dunkin Donut, Country Style, dst. Mereka berani menarik penyewa bermerek itu lantaran 23 gerai Alfa di Jawa dan Bali selalu ramai pengunjung. Rata-rata 3.000 orang per hari, ujar Kurnia Sukrisna, Direktur Operasional PT Alfa Retailindo.

Mengharap rezeki dari emperan

Tini yang membuka stan bakso Malang seluas 4 m2 di Makro, Pasar Rebo, mengaku membayar sewa Rp 2 juta per bulan. Baginya, itu tak memberatkan. Sehari, omzet dagangannya mencapai Rp 500.000. Itu kalau sepi. Kalau tanggal muda atau hari libur, minimal dapat Rp 1 juta, ujarnya bangga.
Tapi, tak demikian halnya dengan Enzoztri. Pedagang sepatu sandal wanita di Goro Kelapa Gading ini malah mengeluhkan mahalnya harga sewa 4 m2 tempat usahanya. Dengan harga sewa Rp 1,9 juta per bulan, Jualan saya hanya cukup untuk bayar sewa, ujarnya. Belum lagi Goro tak memberikan fasilitas apa pun selain listrik. 
Toh, bagi kolega Enzostri, Ade Fatma, membuka stan di pertokoan mapan jauh lebih nyaman ketimbang menyewa lapak pinggir jalan. Pedagang keramik bikinan Yogya itu merasa berjualan di Goro lebih aman. Tak diganggu preman, tak ada pungutan tambahan, katanya.
Beda lagi di Alfa. Lantaran kondisi tiap tempat berbeda, Kurnia tak bisa memukul rata harga sewa ritel space. Di Alfa Cikokol, misalnya, lantaran tempatnya luas dan penyewanya cukup banyak, harga sewa cuma Rp 50.000 per m2 sebulan. Dengan situasi berbeda, Alfa Meruya bisa mematok harga sewa Rp 400.000 per m2 sebulan. Yang paling mahal tentunya di Alfa Denpasar. Walau space yang tersedia terbatas, dengan harga sewa Rp 600.000 per m2 sebulan calon penyewanya justru antre. Padahal, menurut Kurnia, sewa space itu andilnya tak lebih 1% dari omzet Alfa.

Sentra Sandal Karet Cirebon

Kerajinan sandal karet Desa Kabarepan sempat menemui masa emasnya. Sayang saat ini mereka terbelit masalah klasik, permodalan dan pemasaran.

Sejak lama, desa Kabarepan di Kecamatan Plumbon terkenal sebagai sentra industri kerajinan sandal karet di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Hampir 75% penduduk desa ini mengandalkan hidup dari usaha ini. Bahkan diperkirakan, Desa Kabarepan merupakan salah satu dari dua sentra produksi kerajinan sandal karet terbesar di Indonesia. Satu sentra lainnya adalah di Surabaya, Jawa Timur.

Usaha sandal karet yang dikelola masyarakat Desa Kabarepan dan sekitarnya, telah memberikan nafkah yang cukup dan membuka lapangan kerja bagi penduduk di sekitar desa itu, bahkan juga mereka yang tinggal di luar Kecamatan Plumbon.

"Berdasarkan catatan kami, ada 145 pengusaha kecil di desa ini. Dari jumlah pengusaha tersebut diperkirakan menyerap tenaga kerja sekitar 5.600 orang," jelas Noerkimin, Kepala Desa Kabarepan kepada kontributor KAPITAL, Redi Mulyadi.

Noerkimin menjelaskan, meski dalam kondisi krisis moneter, setiap harinya rata-rata sandal karet made-in Desa Kabarepan terjual sekitar 1.500 kodi per hari. Jika dikalikan dengan harga termurah, yakni Rp20 ribu per kodi, maka omsetnya adalah Rp30 juta perhari. Hitung saja jika dikalikan perbulannya. Sedikitnya Rp900 juta beredar di desa tersebut.

"Apalagi kalau yang terjual sandal seharga Rp 30 ribu Rp40 ribu per kodi, berapa besar omset perhari atau perbulannya. Bisa kita bayangkan," ujar Noerkimin.

Hadapi Krisis

Namun, belakangan usaha kerajinan sandal karet Desa Kabarepan yang terkenal seantero Nusantara itu terhempas krisis, baik modal maupun pemasaran. Akibatnya, kurang lebih 115 pengusaha kecil sandal karet terancam menghentikan kegiatan usahanya sejak satu tahun terakhir.

"Karena mereka benar-benar kesulitan modal akibat adanya kecurangan dari para grosir, disamping kesulitan pemasaran," ungkap Sutarto, sekretaris pra-Koperasi Prima Citra.

Menurutnya, diantara kecurangan yang dilakukan para grosir yang umumnya berada di Bandung, Jakarta dan Jawa tengah itu adalah pembayaran dengan cek kosong dan cek mundur. Akibat ulah para grosir ini bukan hanya pengusaha kecil saja yang jadi korban, tapi juga para pengusaha kelas menengah dan besar yang berjumlah sekitar 20 orang.

Dengan adanya kondisi tersebut, pengusaha sandal karet kelas menengah dan besar terpaksa tidak bisa rutin dalam berproduksi dan pemasarannya. "Akibatnya, ditengarai saat ini terjadi persaingan tidak sehat diantara sesama pengusaha, hanya untuk sekedar mempertahankan kehidupannya," ujar Sutarto.

Padahal di pasaran, harga sandal karet buatan perajin Desa Kabarepan, baik yang beredar di kaki lima, toko maupun supermarket, berkisar antara Rp3.000 sampai Rp30.000 per pasang. Bandingkan saja dengan harga ditempat pembuatannya yang paling tinggi Rp40.000 per kodi (20 pasang).

"Perbedaannya tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan harga di tempat produksinya," kata Sutarto.

Bila krisis yang dialami saat ini belum juga berakhir dan terus berlanjut, dikhawatirkan usaha kerajinan sandal karet di Kecamatan Plumbon nantinya dikuasai oleh para pemodal di luar Cirebon dan bahkan pemodal asing.

Uluran Tangan

Para perajin sandal karet di Plumbon umumnya dan Desa Kabarepan khususnya kini tampaknya memerlukan uluran tangan dari pihak-pihak terkait yang diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan kondisi para pengusaha sandal tersebut.

Sejumlah pengusaha kecil, menengah dan besar di desa tersebut mengatakan bahwa masalah utama yang mereka hadapi sekarang ini adalah permodalan dan pemasaran. "Kedua hal ini merupakan sarana vital bagi kelangsungan hidup usaha kami," ucap H. Mochammad Bakri.

Moch. Bakri yang termasuk pengusaha sandal karet kelas menengah ini menyatakan macetnya permodalan dan terbatasnya akses pasar merupakan momok bagi pengusaha. Kadangkala produksi macet karena minimnya modal. Tapi bukan tidak mungkin, suatu saat stok produksi menumpuk karena para grosir curang mempermainkan harga dan berulah dengan teknis pembayaran.

Untuk memperbaiki keadaan itu pengusaha sandal karet di Plumbon telah berusaha menghubungi pihak BUMN dan lembaga keuangan lainnya untuk mendapatkan bantuan permodalan.

"Namun usaha ini belum membuahkan hasil hingga saat ini. Mungkin karena lembaga-lembaga tersebut belum mempercayai kemampuan para penguasaha sandal karet untuk mengembalikan modal mereka," papar Sutarto.

Beberapa waktu lalu, sebenarnya anggota dewan dari komisi E DPRD Kabupaten Cirebon sudah mengusulkan kepada pemerintah daerah setempat agar melakukan perlindungan terhadap para pengusaha sandal ini. Tujuannya jelas, yaitu agar mereka terhindar dari permainan dan kecurangan para grosir.

Anggota dewan tersebut mencermati, pengusaha sandal harus membentuk jaringan pemasaran bersama untuk produksinya. Dengan demikian mereka tak perlu lagi tergantung pada para grosir dalam pemasaran. "Gunakan saja jalur pemasaran bersama ini. Pasti kuat," tutur anggota dewan tersebut.

Profile H. Djafar
BERDAGANG SEJAK MASIH BANGUNAN JAMAN BELANDA

Menekuni bidangnya dengan sabar jujur dan ulet, biasanya akan memetik hasil, sebab dengan kesabaran, kejujuran, keuletan disertai dengan kesungguhan keberhasilan akan selalu menghampiri. Prinsip tersebut tampaknya yang selalu ditanam dalam diri H.Djafar, pemilik toko kerudung jilbab,Dewi Ayu

H.Djafar, merupakan sosok pedagang yang cukup ulet dalam menekuni usahanya. Dirinya bergabung menjadi pedagang di Pasar Tanah Abang sejak tahun 1971. Pada waktu itu menurutnya, pedagang kerudung jilbab baru ada 4 orang, termasuk H.Djafar. Walaupun pedagang jilbab waktu itu masih sedikit, pembeli belum begitu banyak, alasannya menurut H.Djafar, saat itu yang memakai kerudung jilbab masih terbatas pada orang tua, sedangkan pada kaum muda tampaknya belum membudaya. Kondisi pasar pada waktu itu bangunan peninggalan belanda, dan masih berbentuk los-los panjang.

Dalam meniti perjalanan bisnis dagangnya, H.Djafar menceritakan liku-liku usahanya seperti berikut ini. Di tahun 1971 awal usaha dengan modal Rp1.000.000 dan pedagang pada waktu itu belum begitu banyak seperti sekarang ini. Kami menempati Blok A lantai dasar dilos Genteng. Disitu Kami menjual kerudung dengan harga 1 kodinya Rp3000. Pada waktu itu pedagang jilbab di Pasar Tanah Abang, baru ada 4 orang termasuk saya, dalam satu hari bisa menjual lebih kurang 20 kodi. Selanjutnya dengan dibangunnya proyek baru pada tahun 1975 Kami pindah di Blok B lantai dasar hingga tahun 1980. Kami mengembangkan usaha lain dibidang jasa bordir dan menempati blok A lantai 2. Dengan modal 4 mesin, dimulailah usaha ini. Pelanggan ada dari warga biasa hingga Abri. Usaha bordir sempat bertahan hingga tahun 1990. Setelah itu pelanggan makin sedikit, ahirnya peralatan mesin di jual dan kembali menekuni dagang kerudung. Sejak tahun 1991 hingga sekarang Kami menempati di Blok F lantai dasar dengan menempati 2 lokasi dengan nama toko yang sama Dewi Ayu,paparnya.

Menurut H.Djafar di tokonya Dewi Ayu perhari bisa menjual kerudung antara 200 hingga 500 kodi, dan omset penjualan perharinya antara 20 juta hingga 50 juta. Tak heran bila anak-anak H.Djafar yang berjumlah 5 0rang semuanya berhasil. 3 diantaranya menjadi sarjana. Dua anaknya mengikuti jejak orang tua dengan berbisnis dagang di Pasar Tanah Abang.

Profile H. Bahar Yusuf
TIKAR DI RUMAH DIJUAL SEBAGAI MODAL AWAL

Perjalanan hidup manusia ibarat roda berputar, terkadang diatas terkadang dibawah. Tak sedikit yang sekarang ini hidup sukses,dulu hidupnya penuh dengan penderitaan. Begutulah yang namanya kehidupan tak bisa ditebak. Kita hanya bisa berusaha Tuhanlah yang menentukan. Kali ini mencoba mengungkap profil beberapa pedagang yang telah sukses di Pasar Tanah Abang, berikut suka dukanya sebelum jadi sukses seperti sekarang ini.

H.Bahar Yusuf lahir disebuah desa kecil dan terpencil di Sumatra Barat, tepatnya di Desa Gando Paninggahan, Solok tanggal 17 Agustus 1945. Tampaknya tanggal dan tahun kelahirannya memberi nilai plus dan terkesan keramat, pasalnya pada tanggal dan tahun tersebut bertepatan dengan hari yang cukup bersejarah bagi bangsa
Indonesia, yaitu hari kemerdekaan. Dan tampaknya tanggal dan tahun kelahirannya tersebut kini sudah memberi arti penting bagi kesuksesan yangn diraih saat ini.

Melihat perjalan hidup H.Bahar Yusuf, memang tak semulus seperti sekarang ini, banyak liku-liku yang dijalaninya. Di usia 9 tahun dirinya harus kehilangan pigur seorang ayah yang sangat Ia cintai dan kagumi, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Sebelumnya dikala usianya baru menginjak 2 bulan Ayahnya mendapat musibah yang menyebabkan kedua matanya buta dan tangan kanannya putus kena dinamit. Sehingga praktis ayahnya tak mengetahui perkembangan dirinya, sampai ayahnya meninggal dikala usianya baru 9 tahun.

Setelah ditinggal mati ayahnya, dirinya bekerja keras membantu ibunya mencari uang Seperti memetik buah kelapa, sebagai penyadap getah ditempat saudaranya, sampai ahirnya Ia memutuskan pergi dari rumah ingin merantau cari uang. Dalam awal pengembaraannya dirinya hanya berbekal uang 75 perak hasil dari menjual tikar orang tuanya.

Kota Jambi merupakan tujuan pertamanya di situ H.Bahar menjadi pedagang kaki
lima
, dan disinilah dirinya mulai berumah tangga, disini pulalah kehidupannya mulai meningkat. Sampai dirinya memiliki 2 toko di Jambi hingga saat ini.

HIJRAH KE JAKARTA DAN TERDAMPAR DI TANAH ABANG

Manusia tiada yang merasa cukup, selalu ada saja yang kurang, tampaknya hal tersebut melekat pula pada H.Bahar, apalagi mengingat anaknya berjumlah 9 orang, serta dalam benak selalu ingin berhasil, itulah yang mendorong semangat berjuang di Ibu Kota.

Jadilah pada tahun 1989 dirinya menyewa toko di Blok A lantai 2 dengan ukuran kios 2x3 m, dengan menjual pakaian jadi. Modal awal di Pasar Tanah Abang sebesar 37,5 juta dengan sewa toko pada waktu itu sebesar 11 juta selama 2 tahun. Lama kelamaan usahanya makin laris, perhari ditokonya bisa menjual 50 hingga 100 lusin pakaian, sehingga di tahun 1992 dengan hasil keuntungan berdagang tersebut dirinya bersama istri berangkat haji.

Sekembali dari berhaji dirinya membeli kios di Blok C lantai 2 los K no.48-49 dengan ukuran 4x4 yang diberi nama Toko Asia hingga saat ini. Menurut H.Bahar, tokonya beromset ratusan juta perhari dengan penjualan sebanyak 300 hingga 400 lusin pakaian. Pemesan ditokonya banyak dari pelanggan tetap yang menurutnya pelanggannya ada di semua propinsi. Menurutnya lagi, biasanya pelanggan tetap yang datang ke tokonya sedikitnya mengambil 50 lusin.

Saat ditanya kenapa betah berjualan di Pasar Tanah Abang, dirinya mengatakan, Saya cocok dan betah di sisni karena disini kondisinya selalu ramai, disamping itu disini rata-rata orang sudah tahu kalu Pasar Tanah Abang, merupakan pasar grosir yang besar, paparnya.

Dengan keuletannya dalam berdagang, dirinya kini mempunyai 5 toko, namun yang 4 toko dikelola anak-anaknya yang sudah berkeluarga, yakni toko HB.Trend yang ada di blok A lantai 2, toko Asia Yunior terletak di Blok F lantai 3, toko Lorimo blok F lantai 3, toko Balopa di blok A lantai 2.

KESUKSESAN TAK MEMBUATNYA SILAU

Kesuksesan yang diraih H.Bahar tampaknya tak membuat dirinya terlena oleh kekayaan, mereka sadar semua itu Tuhanlah yang mengatur, dan itu wajib di syukuri. H.Bahar ingat kaum lemah, sehingga di tahun 1993 memprakasai jalinan kerja sama antara pengusaha besar dan kecil yang ada di
Jakarta
dan Pekalongan, sehingga tercipta lapangan kerja baru. Dari sini pulalah H.Bahar pada tahun 1993 lewat Departemen Sosial, dirinya memperoleh penghargaan dari pemerintah sebagai pelopor kesetiakawanan sosial nasional.

Pada tahun 1995 dirinya mendirikan pesantren terpadu bernama, Serambi Mekkahyang terletak di jalan A.Yani no.1 di Padang Panjang, dengan lusas tanah 2 hektar. Di dalam pesantren tersedia sekolah SLTP dan SMU, serta Masjid. Bahkan di tahun 1999-2000 pesantren terpadu Serambi Mekkah memperoleh kepercayaan dari pemerintah, yaitu memperoleh predikat sebagai rangking pertama untuk sekolah swasta tingkat SLTP dan SMU se kodya Padang Panjang.

Melihat perjalanan hidup H.Bahar Yuisuf, pantas kita contoh, seperti dalam membelanjakan hartanya di jalan yang benar. Awal perjalanan hidupnya yang sulit dan penuh liku, ahirnya bisa mencapai kesuksesan, namun dirinya tak silau oleh harta yang diperolehnya, bahkan hartanya telah menjadikan banyak manfaat pada orang lain.

Profile H. Niljon
BERAWAL DARI JUALAN KAKI
LIMA

Gigih dan ulet memang senjata yang paling ampuh dalam berusaha dibidang apapun, setidaknya ini yang dialami oleh pedagang seperti Bapak Niljon bersaudara. Enam tokonya di Pasar Tanah Abang yang saat ini dimiliki, 5 di Blok A dan 1 di Blok F merupakan hasil dari jerih payahnya bersama saudaranya yang sejak awal usaha dagang secara bersama-sama. Prinsip mereka selagi masih bisa berusaha pasti akan menemui jalan. Tampaknya dengan prisip dan semangat itulah kini ke Enam besaudara tersebut telah sukses dalam usaha dagangnya.

Awal merintis usaha, pada tahun 1998 Bapak Niljon beserta 5 saudaranya berjualan kemeja di kaki
lima Pasar Tanah Abang dengan modal awal Rp 100.000. Namanya saja berjualan tak resmi, dalam setiap menggelar dagangan dirinya beserta saudara-saudaranya selalu was-was tak tenang, apa lagi menurutnya bila jualan pada hari biasa[Senin-Sabtu] hampir setiap hari ada operasi terhadap pedagang kaki lima. Menurut Pak Niljon terkadang dagangannya di garuk dalam operasi. Hanya pada hari Minggu saja katanya dirinya merasa tenang berjualan, pasalnya pada waktu itu hari Minggu pedagang kaki lima
dibebaskan berjualan.

Walaupun dirinya beserta saudaranya berjualan kaki
lima
secara kucing-kucingan pada waktu itu [Tahun 1989] hasilnya cukup lumayan. Menurutnya bila diambil rata-rata dalam satu hari bisa menghabiskan 50 sampai 100 potong dengan harga perkemeja sekitar Rp 5000. Dan bila hari Minggu kata Pak Niljon dagangan kemeja bisa terjual 100 potong lebih.

Melihat prospek dan perkembangan dagang di Pasar Tanah Abang cukup bagus, Pak Niljon dan saudaranya lantas bersepakat untuk berjualan secara resmi didalam toko, tak mau lagi berdagang secara kucing-kucingan dikaki lima. Berbekal modal selama berdagang di kaki
lima
ditambah dengan modal dari toko orang tuanya yang dijual di Lampung, Pak Niljon dan saudaranya mulai berdagang didalam toko di Blok A lantai dasar hingga sekarang ini. Awalnya mereka hanya memiliki 2 toko, lama-kelamaan makin maju hingga saat ini jumlah tokonya ada 6 buah. Lima di Blok A dan Satu lagi di Blok F semuanya di Pasar Tanah Abang.

Tampaknya kedua orang tuanya sangat bijaksana dan adil. Ini terlihat dari keEnam anaknya diberi toko satu-satu untuk meneruskan langkah bisnis dagang yang memang sudah turun temurun tersebut. Saat ini seperti yang dikatakan oleh pak Niljon yang memegang salah satu toko di Blok A yang diberi nama toko 6 saudara omset perhari di tokonya mencapai kurang lebih
Rp 30.000.000

Djaslim Suin
Petani yang Berbisnis Ala VOC


Tanpa diduga, Djaslim Suin berbisnis seperti yang dilakukan VOC dulu. Yakni, memperdagangkan hasil bumi dari Indonesia ke Belanda dan negara-negara lain di Eropa. ''Bahkan gudang saya di Belanda berada dekat sekali dengan bekas gudang VOC,'' ungkap Djaslim, pendiri PT Kinarya Era Bumi Nusa (KEBUN).

Perusahaan di bidang agribisnis itu didirikan oleh Djaslim bersama anak dan teman-temannya tahun lalu. Memang perusahaan itu masih terbilang muda. Namun, sesungguhnya Djaslim sendiri sudah bergerak di bidang agrobisnis jauh sebelum itu.

Bermula dari masa kuliah di ITB Bandung. Sebagai mahasiswa perantauan dari Sumatra Barat yang berasal dari keluaga berkecukupan, Djaslim melakukan bisnis kecil-kecilan. ''Saya berjualan sayur mayur,'' kenangnya.

Rupanya dunia bisnis sayur mayur -- yang kemudian merambah ke berbagai komoditi -- 'menjebak' Djaslim. Sehingga, sarjana mesin ini akhirnya menekuninya sampai sekarang. Bahkan, kalau awalnya sumber dan pasarnya hanya Bandung dan sekitarnya, sekarang sumber komoditinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Itu terlihat dari daftar kantor perwakilannya yang berada di Bogor, Bandung, Bukittinggi, Batam, Pontianak, Pekan Baru, Yogyakarta, Malang, Manado, Banjarmasin, Makasar, dan Samarinda. Dan, pasarnya pun tak hanya ada di seluruh Indonesia, tapi juga Singapura, Belanda, dan negara-negara lain.

''Kebanyakan komoditi kami berasal dari dataran tinggi. Sebagian kebun milik sendiri, tapi lebih banyak bekerjasama dengan standar dan teknologi pengolahan yang terjaga,'' tegas Djaslim.

Djaslim mengungkapkan, pilihannya jatuh pada agrobisnis karena dia memang anak petani. ''Saya paham betul bagaimana kehidupan petani dan selalu ingin mencarikan jalan bagi perbaikan taraf hidup petani,'' ungkapnya tentang visi bisnisnya. ''Petani selalu terjepit. Tiap panen harga jatuh padahal telah menghadapi resiko gagal yang tinggi. Yang untung selalu pedagang,'' tambahnya.

Djaslim pernah bergabung dalam sebuah kelompok petani di Jember dan mendukung petani melalui perkoperasian yang membela perbaikan hidup petani. ''Saya juga kan petani. Siapa lagi kalau bukan kita yang dari petani sendiri yang mengerti dan mampu membantu petani,'' katanya. Dan, caranya membantu petani adalah dengan bisnisnya sekarang.

Walau menduduki posisi presiden direktur PT KEBUN, Djaslim kerap terjun langsung di lingkungan petani di pelosok. Ia tidak hanya duduk di kantor yang nyaman. ''Karena inilah bisnis kami. Dan saya memang senang mengamati masyarakat karena sekalian belajar,'' katanya.

Senatiasa berhubungan dengan para petani di berbagai pelosok membuat Djaslim dan PT KEBUN memberi nilai tambah bagi petani. Yakni, dengan menjalankan tata niaga yang saling menguntungkan -- 60 persen harga konsumen untuk petani. Juga, memberikan teknologi yang dapat menentukan pola tanam dan menyusun peta konsumsi produk pertanian di Indonesia.

Bisnis Djaslim sesungguhnya juga milik 400 lebih karyawan tetap KEBUN. Sebab 60 persen laba perusahaan dikembalikan kepada karyawan di luar gaji. ''Karena kami melihat karyawan bukan sebagai orang yang bekerja kepada kami, tapi yang bekerja bersama-sama kami,'' kata Djaslim. dmm

Nia Kurnia
Menggadaikan Mahar Demi Merintis Usaha


Nia Kurnia sempat ragu tentang keberhasilannya jika menekuni usaha di bidang busana muslimah. Maklum, pada 1993 tren busana muslimah sudah dikuasai oleh sejumlah perancang kenamaan Jakarta. Tapi pemilik dan sekaligus Direktur CV Rabbani Asysa itu tak surut melangkah.

Ada ayat yang membuat motivasinya untuk beramal dan beribadah membulat. Begini ayat itu, Dan berkatalah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS 9: 105) . Nia terdorong untuk serius menangani usaha busana muslimah.

Ibu dari empat orang anak ini lantas mencermati pasar yang ada. Akhirnya Nia menemukan celah, lalu memproduksi dan memasarkan desainnya. ''Saya membidik segmen mahasiswa dan dunia kampus,'' cetusnya.

Sekitar 1993 busana muslimah yang dikenal memang busana-busana
resmi yang seolah hanya digunakan untuk acara khusus. Misalnya, dipakai saat bulan Ramadhan atau Lebaran. Padahal, kata Nia, orang berpakaian sesuai syariah harus dilakukan setiap hari. Tak ragu, ia yang menjalankan usahanya bersama suaminya Amri membidik pasar busana keseharian (kasual). K riteria busana ciptaannya adalah berdesain simpel, mudah dikenakan, nyaman, dan harga murah

Perempuan kelahiran Sumedang 14 Maret 1969 ini tak henti
berkreasi. Hasilnya, busana-busana rancangannya kian digemari. Kini,
toko yang juga ruang pamer di Jl Hasanuddin, Bandung itu didatangi
banyak konsumen. Mulai dari usia balita hingga lanjut usia.

Namun, lulusan FMIPA Unpad ini mesti melalui jalan yang terjal sebelum
tiba di posisi saat ini. Modal usaha diperoleh suaminya dengan
menggadaikan mahar perkawinan mereka yang nilainya Rp 100 ribu. Kejelian Nia dalam melihat peluang pasarlah yang secara perlahan membawa
usaha ini menjadi lebih maju.

Menurutnya, dengan menjual busana kasual, peluang untuk meraup keuntungan setiap hari menjadi lebih besar. ''Busana muslimah kasual lebih sering dibeli, karena dikenakan setiap hari. P erputarannya menjadi lebih cepat dengan modal yang tak terlalu besar,'' jelas Nia yang juga sering terlibat langsung dalam proses desain produk.

Semula perempuan yang mengaku tak punya hobi ini hanya mempekerjakan
satu orang pegawai. Kini, seluruh karyawannya berjumlah 120 orang. Sekitar
80 orang bekerja di garmen, sedangkan sisanya bertugas di berbagai bagian.

''Coba beramal, berkreasi, jangan ragu-ragu. Walau kelihatannya pasarnya
sempit, namun ternyata tidak. Insya Allah, amal kita dilihat Allah,''
ungkap Nia soal kiatnya. aan

Ade Suhidin
Profit Sharing dari Kandang Bebek


Ade Suhidin lebih suka disebut peternak. Walaupun, lulusan ALA Berkley, Los Angeles, AS ini konglomerat dan pebisnis ulung. Ia adalah direktur utama PT Adess Sumberhidup Dinamika (Addfarm), perusahaan peternakan bebek yang beroperasi dengan sistem bagi hasil (profit sharing).

Saat ini Ade mempunyai mitra investor sebanyak 3.000 orang. Modal yang berhasil dihimpun dari mereka mencapai miliaran rupiah. Bisa jadi karena janji keuntungan hingga 44 persen per tahun, Addfarm tak sepi dari investor baru.

''Bahkan, kami sempat mempunyai investor hingga 8.000 orang. Tapi, yang aktif kini tinggal 3.000 orang saja,'' ujarnya kepada Republika, di sela-sela acara family gathering Addfarm, beberapa waktu lalu di Cirebon. ''Saya tak tahu persis mengapa mereka menarik diri, tapi saya juga optimis sistem yang kami kembangkan ini akan menarik lebih banyak investor lagi.''

Berawal dari modal Rp 200 juta saat mendirikan perusahaan peternakan itu pada 1995, kini aset yang dimiliki lelaki tinggi besar (38) asli Cirebon itu telah berkembang hingga Rp 140 miliar. Dalam dua tahun terakhir Addfarm membukukan keuntungan Rp 40 miliar. Usahanya pun tak lagi mengandalkan produk bebek semata. Ade kini juga mulai merambah perhotelan, pariwisata, dan penerbitan.

Tak lama lagi, jika programnya lancar, penikmat lagu-lagu God Bless itu akan mempunyai perusahaan asuransi sendiri, dan bahkan bank sendiri. ''Sementara ini masih berupa wacana. Namun, kami serius untuk merealisasikannya. Bukan apa-apa, asuransi dan bank sangat penting untuk mendukung usaha ternak bebek,'' lanjutnya.

''Kedua bidang itu selama ini kelihatannya belum sepenuhnya percaya kepada kami. Karena itu kami merasa perlu memiliki sendiri,'' imbuh suami Rina Damayanti itu. ''Asuransi penting untuk mengantisipasi risiko usaha.''

Ade mengaku dapat seperti sekarang tanpa bantuan dana dari bank. Dulu ia sempat meminjam degan syarat macam-macam dan sulit. ''Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mengembangkan usah tanpa bantuan dana bank,'' kenangnya.

Menurutnya, kemitraan dan niat baik berbagi keuntungan dengan orang lain menjadi kunci sukses. Berbagi keuntungan bukan hanya dilakukannya dengan para pemilik uang, namun juga dengan orang-orang kecil di sekitarnya. Kemudian muncullah konsep bisnis profit sharing ternak bebek itu.

Dalam bisnis ini Ade bermitra dengan para peternak sungguhan. Merekalah yang angon (menggembala) bebek milik para investor yang rata-rata orang kota. Ade mengaku ingin membantu mengentaskan kemiskinan di daerah kelahirannya. ''Kini para peternak bisa meraih pendapatan lumayan setiap bulannya. Desa-desa pun terbebas dari tawuran antarkampung karena pemudanya tidak lagi menganggur,'' imbuhnya.

Selama tujuh tahun Ade membangun ''kerajaan bebeknya.'' Ia mempuyai resep tersendiri mewujudkan usahanya itu. ''Yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah cara memandang suatu hambatan. Saya selalu melihatnya sebagai suatu tantangan yang tetap harus ditaklukkan.''

KIAT WIRAUSAHA SUKYATNO NUGROHO
Sejarah Dari Es Teler 77

Taken From Majalah Manajemen/ November 1998

Hidup Itu Harus Dijalani

Kiat selalu menggoda. Bagaimana orang bisa sesukses itu? Apa yang mereka lalukan? Banyak wirausaha menjawab seadanya. Sukyatno Nugroho punya tiga: melakoni, pantang menyerah dan kerja keras. Klise tapi terpukti.

Es Teler 77, Mie Tek-tek, dan Pasti Enak adalah waralaba-waralaba nasional yang tergolong sukses. Di balik kesuksesan bisnis itu adalah Yenni Setia Widjaja yang hobi memasak, dan suaminya Sukyatno Nugroho. Suami istri bisnisman ini kini tergolong sebagai pengusaha yang sukses. Merk-merk dagangnya berkibar dimana-mana melalui sistem waralaba atau franchise. Sebelum krisis moneter menerpa jumlah terwaralaba (Franchisee) mencapai 200 cabang untuk Es Teler 77, 20 cabang untuk Mie Tek-Tek. Ide Es Teler 77 Juara Indonesia sendiri, sebenarnya bermula dari keberhasilan mertua Sukyatno, Ny Murniati Widjaja, yang memenangkan Juara I Lomba membuat es teler se-Indonesia pada tahun 1982. Disamping itu suami istri ini juga didukung sepenuhnya oleh Trisno Budiyanto, manajer keuangan Es Teler 77.

Dalam banyak seminar, Sukyatno sering memperkenalkan dirinya sebagai penyandang gelar MBA yang kependekan dari "Manusia Bisnis Asal-asalan". Jalan hidupnya memang awut. Di sekolah peringkatnya adalah nomor 40 dari 50 murid. Ijasahnya hanya sampai SMP. Di SMTA ia hanya tahan 3 bulan di kelas satu. Pengalaman bisnisnya pun termasuk "asal-asalan". Ia pernah menjadi salesman kondom, obat cina, bahan kimia, dan barang-barang teknik. Ia belum pernah diterima sebagai pegawai bulanan. Tetapi ia pernah menjadi pemborong bangunan, reklame, leveransir, percetakan, biro jasa sekaligus tukang catut serabutan. Bangkrutpun pernah dialami sampai habis-habisan. Tepatnya ini terjadi duapuluh tahun yang lalu, pada tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaan yang dipunyai ketika itu adalah 10 : 1. Jadi debt service rationya sudah mencapai 1000% disitulah hobi masak Yenny berperan sebagai penyelamat. Isterinya itu berjualan bakmi di garasi rumahnya. Pernah si wirausaha ini meneteskan air matanya karena dari hasil jualan bakminya waktu itu tidak mampu untuk membayar sekolah anaknya. Dan dengan bekal turun kelapangan dari bisnis-bisnis sebelumnya, Sukyatno mampu mengembangkan Es Teler 77 dengan cepat dan kini sudah memasuki tahapan stabil. Kini bahkan sudah dilakukan diversifikasi melalui pembukaan Mie Tek-Tek, dan Pasti Enak yang menjual aneka hidangan ikan.

Ceritera Sukyatno

Mungkin karena pendidikannya yang berhenti di tengah jalan, Sukyatno tidak mempunyai banyak pilihan karier. Pilihan yang terbuka luas adalah terjun ke lapangan, mengais rejeki apa saja yang mungkin. Langsung terjun, kerja keras, tidak mundur oleh kegagalan, ketiga langkah ini yang mewarnai sepak terjang Sukyatno Nugroho. Dalam suatu seminar tahun lalu yang diselenggarakan oleh Forum KUKKI dan Inti pesan Pariwara, Sukyatno menceriterakan kehidupan wirausahanya demikian: "Hidup saya amat dipengaruhi oleh motto klasik bahkan klise. Namun ternyata manjur untuk sampai sebutan "sukses", terutama dalam berwiraswasta. Motto-motto itu adalah:

Hidup ini harus dilakoni (dijalani), bukan hanya di khayalkan.
Kegagalan dalam hidup adalah kesuksesan yang tertunda.
Hidup harus diisi dengan kerja keras, dengan menggunakan akal, bukan Sekedar Okol
Dalam falsafah "Hidup ini harus dilakoni, bukan di khayalkan", saya menarik beberapa simpul yang penting. Satu di antaranya yang patut diperhatikan ialah: kecenderungan anak untuk ikut menikmati hasil kekayaan orang tuanya, atau mertuanya, atau saudara dekatnya. Bagi saya, kecenderungan seorang anak ikut menikmati kekayaan pendahulunya, bisa disebut sebagai anak yang memakan khayalan. Atau anak yang melahap angan-angan, karena khayalan atau angan-angan itu sekonyong-konyong sudah ada di hadapannya. Hal itu , bagi saya sangat tidak realistis, dan harus dihindari, karena dengan begitu ia tidak masuk kriteria melakoni hidup.

Bagi saya, memakai hasil kekayaan para pendahulunya (orang tua, mertua, dan sebagainya) sama dengan minum racun. Sebab, bila seorang anak neggak fasilitas itu melebihi kadar, akan over dosis dan mabuk. Kemabukan anak itu bisa berupa kemalasan, ketidakkreatifan, kebodohan. Dan hal tersebut akan berujung pada ketidakmajuan. Anak muda menjadi mandul. Hal demikian saya tanamkan kepada anak-anak saya. Saya selalu mengatakan bahwa saya tak punya apa-apa. Karena itu, sekolahlah rajin-rajin. Dan terampillah dalam bergerak di lapangan. Lalu saya harapkan ia mengikuti semua aktivitas ekstra kurikuler, seperti Pramuka, PMR, PMI, dan sebagainya. Saya merasa itu adalah pendidikan keterampilan yang paling awal. Yang akan membawa anak ke sukses lapangan. Saya merasa itu adalah pendidikan keterampilan paling awal, yang akan membawa anak ke sukses lapangan. Kini anak-anak saya remaja, dan saya sekolahkan di Australia. Keterampilan yang dibawa dari ekstra kurikulum di Indonesia, ternyata bermanfaat di sana. Ketika di kotanya terjadi banjir, mereka bisa langsung terlibat, membikin bantuan PPPK dan sebagainya. Usaha sukarela ini berlanjut kepada kegiatan yang lain. Ketika musim libur, ia jadi tidak canggung-canggung lagi turun ke lapangan. Anak saya siap menjadi tukang cuci, atau loper koran, atau tukang lap meja sebuah restoran. Semangat ringan tangan mereka ditolakkan dari perasaan sebagai "orang bawah", sebagai orang biasa. Kalau mereka sejak kecil dibiasakan dengan spirit anak orang kaya, saya rasa mereka akan celaka. Kemauan ringan tangan inilah yang membuat mereka terampil. Dan kemauan untuk ringan tangan itu membawa anak-anak kepada benturan-benturan ilmu baru, ilmu yang dengan serta merta ia dapatkan secara formal. Saya yakin, hasilnya adalah sejumlah sikap kewiraswastaan yang punya prospek hebat. Sebab yang dipegang akhirnya ialah "Ilmu Plus", yakni ilmu keterampilan, feeling dan strategi.

Orang yang biasa di lapangan, biasanya tak takut pada kejatuhan. Karena ia bermula dari bawah sekali. Dan kalau pun jatuh, ia bisa pakai rumus silat: Terjerembab satu kali, bangun dan menendang tujuh kali. Atau mundur selangkah, untuk menerjang maju tujuh langkah. Karena itulah, motto: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, memperlihatkan kebenarannya. Bekerja dengan merangkak dari bawah, dengan bekerja keras memakai akal-bukan okol sesungguhnya adalah proses yang nikmat dan dapat menjadi sejarah yang bagus buat semuat orang."

Ubah Peluang Menjadi Hasil Nyata

Pengusaha Es Teler 77 ini merupakan salah satu varian dalam panorama wirausaha. Ia melihat peluang, ia mengetahui perilaku pasar, ia bersedia bekerja keras mewujudkan peluang tersebut menjadi suatu hasil nyata yang menguntungkan. Produk yang dijualnya sebenarnya merupakan hal-hal yang juga sudah dijual oleh para pengusaha lainnya. Es Teler, Mie Tek-Tek, aneka hidangan ikan, adalah makanan-makanan yang sebenarnya biasa. Yang tidak biasa adalah cara wirausaha ini dalam melakukan differensiasi terhadap produk yang dijualnya. Ia memberikan merk dagang pada produknya, dan berkat ketekunan dan kerja keras, merk dagang itu lalu mempunyai nilai jual (brand equity) yang memberikan persepsi produk makanan yang higienis dan berkelas. Es Teler 77 diterima di banyak pasar. Namun ada juga yang menolak, semisal di Aceh karena nama tersebut memberikan konotasi kepada tindak mabuk-mabukan yang diharamkan oleh ajaran agama.

Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" adalah satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, lalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata. (ASS).

Enter content here

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here